My Sweet Affair
1. Author : vanimnida
2. Judul : My Sweet Affair
3. Kategori: NC 17, Yadong, Oneshoot
4. Cast:
- Kim Myung-soo (L) / INFINITE
- Lee Minho
- Lee Heemin
FINALLY,,, kesampaian juga bikin NC *prokprokprok
Please no bashing about the character, I’ve tried my best.. jeongmal gamsahamnida ^^
———————————————————————————————
“Heemin-ya.. aku pergi” seru seorang pria dari pintu depan
“eo.. bagaimana makan siangmu?” sahutku dari dapur, tanpa berniat meninggalkan wajan yang tengah kuaduk-aduk dari tadi
“gwaenchana, aku makan diluar” tambahnya, lalu bergegas pergi
Seiring menutupnya pintu depan, aku segera mematikan api kompor dan membuang isi wajan yang sudah hampir gosong ke dalam tempat sampah di sebelah lemari. Selanjutnya aku bersihkan meja makan dan membanting peralatan makan ke mesin pencuci.
Kulangkahkan kaki menuju ruang TV dan terpaku saat memasukinya, dua wajah yang tersenyum menyambut dari balik bingkai foto, seorang wanita yang mengenakan gaun putih dengan buket bunga kecil bergelayut mesra kepada pria disebelahnya, pria dengan tinggi semampai itu memandang wanita itu dengan senyum yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Seakan tersedot ke masa foto itu diambil, ketika aku merasa akhirnya telah memenangkan hati pria yang berdiri disebelahku. Tetapi menikahi pria itu adalah kesalahan besar dalam hidupku, tak ada cinta, dia menikahiku karna usianya yang memang sudah saatnya untuk menimang bayi dan karna tak ada wanita bodoh lain yang betah lama-lama ada disampingnya, setidaknya hanya bertahan untuk melihatnya lebih memilih bertumpuk-tumpuk buku dan berkas-berkas untuk ditangani daripada berduaan dengan wanita yang telah dinikahinya.
Pertemuan pertamaku dengan Minho oppa terjadi di perpustakaan ketika aku sedang menemani temanku mencari referensi untuk tugas. Melihatnya duduk sambil menekuni kalimat-kalimat di buku yang sedang dibacanya, ternyata mampu membuatku melupakan keadaan sekitarku untuk sesaat.
Minho adalah senior tahun akhir di kampusku, jenis cowok yang langsung menyedot perhatian para gadis-gadis disekitarnya. Dengan tatapan tajam dan smirk smilenya tak menyurutkan hati gadis-gadis itu untuk mendekatinya.
Bertahun-tahun masa kuliah kuhabiskan hanya untuk bisa dekat dengannya, bahkan setelah kelulusannya, aku mencari kesana kemari agar tidak kehilangan jejaknya. Awalnya dia seperti terganggu dengan keberadaanku yang selalu menjadi bayangannya, tapi lama-lama dia mulai terbiasa dengan aku disebelahnya.
Singkat cerita, di malam yang naas itu dia melamarku dan tentu saja dengan senang hati kuterima, ternyata penantian panjangku berakhir bahagia. Sebulan kemudian pernikahan kami berlangsung. Hari-hari berikutnya terasa seperti surga bagiku, hanya dengan melihat wajah orang yang kau cintai berada disebelahmu ketika bangun pagi dapat mengumpulkan semangatku untuk seharian.
Setelah beberapa bulan pernikahan kami, akhirnya aku mengatahui alasan mengapa dia melamarku malam itu. PERTUNANGAN, bukan, bukan dia yang ditunangkan denganku. Karena hampir seumur hidupnya melajang, orang tuanya berinisiatif mencarikan jodoh untuk putra semata wayang mereka ini. Karena tak ingin beradaptasi lagi dengan wanita pilihan orang tua nya, dia langsung bergegas pergi ke rumahku dan BYAR.. terjadilah semuanya.
Sejak saat itu aku mulai jaga jarak darinya. Screw me, untuk tidak bisa menceraikannya, aku terlalu takut untuk kehilangannya, jauh darinya. Wanita bodoh yang masih saja terobsesi terhadap pria yang telah mempermainkan hatinya, seandainya aku tau lebih awal.
Kuhempaskan diriku ke sofa di depan TV dan mengambil majalah sembarangan di atas meja. Sebuah amplop coklat meluncur ke pangkuanku. Kubuka amplopnya, PAGELARAN SENI tercetak dengan rapi di dalamnya ditambah dengan garis-garis yang meliuk ditepi halamannya. Kulayangkan pandangan ke jam di dinding, masih ada waktu 2 jam lagi sebelum acaranya dimulai. untungnya hari ini aku sedang shift sore, sepertinya masih sempat kalau melihat-lihat sebentar.
***
Aku berdiri di depan sebuah bangunan minimalis yang alamatnya tertera di undangan tadi, sekerumunan orang tampak sedang antri di depan pintu masuknya. Kupercepat langkahku dan masuk bergabung kedalamnya.
Tidak menunggu berapa lama sampai akhirnya aku masuk ke dalam bangunan yang penuh karya-karya seni ini. Beberapa lukisan, patung dan bermacam-macam keramik lainnya ditata dengan rapi didalamnya, bukan karya seniman-seniman terkenal yang biasa dipajang museum-museum seni, pagelaran ini mempertunjukkan karya seniman-seniman amatir yang baru lulus dari sekolah seni. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang seni, hanya mengagumi beberapa.
Aku berhenti di depan pintu kaca yang bertuliskan DO NOT ENTER. Kuamati pintu kaca yang kurang lebih memberikan gambaran ruang di dalamnya, beberapa lukisan tergantung rapi dalam ruangan itu. Rasa penasaran tiba-tiba menghampiriku, kau tau, semakin kau dilarang untuk melakukan sesuatu semakin ingin kau melakukannya.
Pintu menjeblak terbuka ketika kuayunkan tanganku di gagang pintu. Tak terkunci?? Aku masuk lebih dalam ke ruangan yang dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan dengan tema yang berbeda. Kuamati sebuah lukisan yang tergantung di sudut ruangan, sebuah lukisan hutan dengan latar berwarna coklat, agak terkejut dengan kesan yang dimunculkan lukisan tersebut.
“kau tidak seharusnya berada disini, miss” ujar seseorang dibelakangku
Aku berbalik dan kaget dengan kehadiran orang yang memergokiku sedang berada di tempat yang dilarang ini. Seorang pria sedang memandangku dengan pandangan ingin tahu.
“ahh.. aku hanya ingin melihat-lihat” elakku sambil mengambil ancang-ancang untuk segera pergi dari tempat ini
“kau tau tempat ini dilarang?” tanyanya
“be.. benarkah? Sepertinya aku tak melihat tandanya tadi” jawabku. Alasan yang bodoh untuk diutarakan “terima kasih telah memberitahuku” pamitku lalu berjalan melewatinya.
Tiba-tiba dia menarik tanganku sehingga kini aku berdiri dihadapannya, “wae??” tanyaku sambil mencoba menarik tanganku dari cengkramannya, tapi dia tak mengindahkanku malah menatap tajam pintu dibelakangku. Kemudian dia menarikku ke balik tirai yang tak jauh dari tempat kami berdiri.
“ya.. lepaskan.. aku tahu tak seharusnya aku masuk kesini, aku…” kata-kataku terhenti ketika mendengar suara langkah kaki memasuki ruangan ini
“sst..” bisik pria yang kini sedang mendekapku sambil meletakkan telunjuk di bibirnya
Aku ikut saja ketika dia menarikku ke sebuah ruang kecil yang tersembunyi di balik tirai tersebut, ruangnya sangat kecil, disamping meja tulis kecil, didalamnya hanya muat untuk 1 orang. Jadi kami semakin merapatkan diri ketika langkah-langkah kaki yang mendekat itu memasuki ruang lukisan.
“cepat taruh lukisan itu disini dan ambil sisanya di luar” ujar seorang wanita yang mungkin manajer tempat ini kepada pesuruh-pesuruhnya yang membawa lukisan yang sepertinya akan dipajang di ruangan ini.
Jantungku mulai berdetak tak keruan. disamping orang-orang yang masih bolak-balik ke luar masuk ruangan ini juga karna pria tak dikenal yang kini sedang memelukku. Aku bertaruh dia bisa merasakan detakan jantungku.
Tak berapa lama berselang orang-orang itu mulai pergi meninggalkan ruangan, sepertinya urusan mereka telah selesai. Ku sikut pria yang masih memelukku ini, tapi dia tak bergeming malah semakin mengeratkan lengannya di punggungku.
“lepas..” ujarku sambil melihat ke arahnya. Tapi dia hanya tersenyum dan semakin mendekatkan wajahnya ke arahku. Detik berikutnya aku telah merasakan bibirnya di bibirku. Aku berontak, tapi dia semakin mengeratkan pelukannya. Awalnya hanya ciuman lembut yang kemudian berubah dengan bibirnya yang mulai melumat bibirku dan meneruskannya sampai ke tulang leher dan menyisakan beberapa kiss mark disana. Kuputuskan untuk mengikuti permainannya, aku hanya bisa bersandar pada kehangatan dada dan lengan pria itu.
Pria itu membelai blus yang kukenakan dengan satu tangan. Menemukan bagian ujung tank top yang kukenakan di dalam, jari-jarinya menyusup masuk untuk menangkap satu payudaraku dan membebaskannya dari dalam bra yang kukenakan. Aku tersentak ketika tangannya mulai menggerayangi gundukan itu. “I must be crazy” bisikku ditelinganya. “we are” balasnya sambil balas menyerigai kepadaku.
Aku tak bisa berpikir jernih ketika kedua tangannya mulai menjalar ke bagian tubuhku yang lain, mencari daerah-daerah sensitifnya. Dia mengulurkan tangan kanan ke bawah dan menyusuri paha, mengangkat satu kakiku dan melingkarkan ke pinggangnya, dengan cepat melepaskan kaitan rokku dan dalamannya satu per satu sementara mulutnya kembali mengunci mulutku.
Detik berikutnya dia menangkupkan tangannya di bokongku dan mendorongku kesamping sampai bagian belakang lututku menyentuh meja. Kemudian mendudukkanku ke atas meja, memastikan agar aku tetap duduk ditepinya, lalu dia duduk berlutut di hadapanku dan membenamkan kepalanya diantara kedua pahaku. Aku bisa merasakan mulut pria itu di pangkal pahaku. Lidahnya, giginya ada disana tanpa satu lapisan pun yang menutupinya. Sedikit tersentak dengan getaran yang dihasilkannya.
“chowa??” tanyanya menengadahkan kepala ke arahku
“erghh..” erangku tak tahan menikmati permainannya di bawah sana, kulengkungkan punggungku ke belakang dan meraih kepalanya. GOD.. aku ingin mulutnya ada dimana-mana ditubuhku. Tiba-tiba ia menjauhkan mulut dan bangun untuk melumat bibirku, sementara jarinya masih bergerak di pangkal paha.
Hubunganku dengan Minho selama ini hanya hubungan singkat yang biasa, jarang ada pemanasan sebelum melakukannya.
“katakan ya” bisiknya sambil mengeluskan ujung kejantanannya di pangkal pahaku dengan sengaja, membuatku menggeliat dengan godaannya.
Aku tahu aku menginginkannya, aku ingin pria ini masuk lebih dalam. Tak peduli walaupun aku tak mengenalnya.
“ya?” ulangnya menatap mataku. Pahaku mulai gemetar di bawah tubuhnya, kuangkat tubuhku ke atas untuk mengundangnya masuk ke dalam selubungku. Dia memasukkannya, lalu berhenti ketika hanya beberapa inci darinya yang masuk ke dalam tubuhku
“ya??” ulangnya sekali lagi, aku bisa merasakannya gemetar dalam usaha untuk mengendalikan dirinya, sadar bahwa situasi kali ini sepenuhnya berada ditanganku, “jebal..” bisikku merana, seketika itu juga dia menarik tubuhku lebih dalam hingga membuat pinggulku bergetar, menghunjam masuk, mendorong dirinya sendiri lebih dalam, menelan teriakanku dengan mulutnya. Kewalahan mengikuti gerakan pinggulnya di pinggulku. Kulingkarkan kaki ke seputar pinggangnya, mendorongnya untuk menghunjam lebih—lebih dalam.
Lalu, aku tak bisa menahannya lebih lama lagi, aku mencengkeram kuat punggung pria itu, mungkin meninggalkan beberapa cakaran disana ketika kami mencapai klimaks. Permainan kami berakhir dengan dia menyandarkan kepalanya di pundakku, masih dalam usaha meninggalkan bekas-bekas ciumannya disana, sementara tangannya bertumpu di ujung meja. Tanpa melepaskan kontak di antara kami.
Perlahan-lahan kesadaranku kembali karena masih diliputi klimaksnya permainan tadi. Rasa sakit kembali menyelimuti pangkal pahaku ketika pria itu menarik dirinya sedikit. Seakan protes dengan apa yang dilakukannya, reflex kakiku melingkar menahan pinggangnya agar tetap diposisi awal.
Pria itu kembali mencium leherku dan menyembunyikan wajahnya disana “apakah itu berarti kau mempertahankanku??” godanya. Seketika itu juga, aku menyadari pria ini bukan milikku seutuhnya, lagipula aku tidak mengenalnya, bukan pria yang bisa kupertahankan.
Aku mendorong pria itu, bergetar saat merasakan kehangatannya yang hilang, rasa sakit di pangkal pahaku. Ku coba memalingkan wajah sambil memasang helaian-helaian yang dilepaskannya dari tubuhku. Berdiri sebentar untuk merapikan kekusutan pada pakaianku, tanpa menoleh ke pria yang kini sedang duduk menatapku.
“kau akan pergi?” tanyanya sambil mengancingkan kembali kemejanya. Aku melangkah mundur sambil menganggukan kepala, tak berani menjawabnya dengan suaraku.
“tanpa tahu nama masing-masing?” tanyanya kembali, yang kujawab dengan gelengan kepala
“ini sama sekali tidak lucu, aku harus tahu siapa sebenarnya namamu. Aku harus bertemu denganmu lagi” ucapnya dengan suara lebih keras dari yang sebelumnya
Setengah kaget dengan pertanyaannya, kuberanikan diriku untuk menjawab “tak akan, sekalipun bertemu anggap kau tak mengenalku” jawabku setengah bergetar.
Sebelum dia kembali mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh lainnya, aku segera keluar dari ruangan lukisan itu, menuju pintu keluar gedung dan mencegat taksi pertama yang kutemui.
“mau kemana?” Tanya sopir taksi ketika aku sudah duduk didalamnya
Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, terlambat kalau harus ke kantor sekarang. Lagipula pikiranku masih dibayangi permainan dalam ruang kecil di balik tirai tadi. “Seongbuk-gu, please” jawabku memutuskan untuk pulang.
***
Kutekan beberapa deret angka yang sudah kuhafal diluar kepala pada password lock di pintu, pintu menjeblak terbuka setelah aku menekan tombol terakhir, kulangkahkan kaki melewati pintu dan mendapati sepasang sepatu tak dikenal bertengger di samping rak sepatu. Ada tamu?? Tanyaku dalam hati.
“heemin-ya.. neo wasseo” sambut Minho ketika melihatku masuk ke ruang tamu. Dia sedang duduk dengan seorang pria yang posisinya membelakangi pintu ruang tamu, sehingga aku tak begitu melihat wajahnya.
“ne oppa..” jawabku sambil melemparkan pandangan heran terhadap pria yang masih memunggungiku ini
“ahh.. kenalkan ini adik kelasku myungsoo, myungsoo-ya ini heemin istriku” kata Minho sembari menepuk pundak pria yang kini sedang berdiri disebelahnya.
“selamat malam, kakak ipar” sapa pria itu dengan senyum diwajahnya
Senyumannya membuat tulang-tulangku lemas, sekelebat bayangan ruang kecil di balik tirai itu menghambur kehadapanku.
“myungsoo baru mendapatkan gelar masternya di Jepang dan memutuskan untuk bekerja di Korea” lanjut minho memperkenalkan hoobaenya itu padaku.
Aku tak bisa mencerna omongan Minho dengan baik, otakku masih kaget dengan apa yang sedang ada dihadapanku saat ini. Pria itu, orang yang sama dengan yang memergokiku tengah berada dalam ruang lukisan yang terlarang, pria yang menarikku masuk ke balik tirai, yang memberikan kenyamanan dengan tubuhnya saat menekanku di atas meja tadi sore.
“Dan karena dia baru datang hari ini dan tidak punya saudara di Seoul, aku menyuruhnya menginap disini” tambahnya
GOD.. please kill me…
***
MYUNGSOO SIDE
Setelah menghabiskan waktu beberapa tahun untuk mendapatkan gelar masterku, akhirnya kembali ke Korea. my home sweet home, bisikku saat pertama kali mendarat di bandara. Kuhentikan taksi di depan bandara dan langsung menaikinya
“tujuan kemana tuan??” sapa supir taksi sambil memperhatikanku dari balik kaca
Kulirik jam di ponselku, terlalu cepat untuk mampir jam segini. Minho hyung bilang mungkin dia dan istrinya akan pulang agak telat hari ini. “ahh.. sebenarnya aku tak punya tujuan untuk saat ini, mungkin kau bisa merekomendasikan satu untukku?” tanyaku padanya
“bagaimana kalau ke pagelaran seni tuan” sarannya sambil menyodorkan sebuah pamflet kearahku “hanya karya seniman-seniman amatir, tapi takkan rugi untuk melihatnya” jelasnya kepadaku
aku menimbang-nimbang pamflet itu dan memutuskan untuk mengikuti sarannya. Taksi pun melaju ke sebuah bangunan minimalis di seberang jalan. Setelah membayar taksi, aku segera turun dan ikut antri di depan pintu.
setelah bolak-balik keliling ruangan, kuputuskan untuk meninggalkan gedung ini. Sigh, bukannya aku tak tahu seni atau apa, tapi kurasa berada disini malah membuatku makin pusing.
Ku ambil jalan berbelok di ujung lorong yang akan membawaku kembali ke aula utama. Langkahku terhenti di sebuah ruangan yang tertutup, seorang wanita tampak sedang celingukan didepan pintunya. Kuperhatikan tanda yang tertempel di pintu tersebut DO NOT ENTER tertulis besar-besar di atas sebuah kertas.
Aku berhenti disana dan memperhatikan wanita tadi mencoba membuka pintunya dan masuk kedalamnya, apa dia staff disini?. Penasaran ku ikuti dia masuk kedalam.
“kau tidak seharusnya berada disini, miss” ujarku menegurnya, dia berbalik dan kaget dengan kehadiranku.
“ahh.. aku hanya ingin melihat-lihat” jawabnya, aku langsung tahu dia bukan staff di tempat ini dari gayanya yang mulai salah tingkah
“kau tau tempat ini dilarang?” gertakku
“be.. benarkah? Sepertinya aku tak melihat tandanya tadi” jawabnya “terima kasih telah memberitahuku” pamitnya lalu berjalan melewatiku.
Ku alihkan pandanganku ke pintu, bayangan orang-orang yang memantul disana menegaskan kalau tidak lama lagi mereka akan memasuki ruangan ini. Jadi kuputuskan untuk menarik kembali wanita itu dan melihat sekeliling ruangan, mencari tampat persembunyian yang aman disini. Mataku teralih pada sebuah tirai panjang di sudut ruangan. Cepat-cepat kutarik tangannya untuk mengikutiku.
Awalnya dia berontak, tentu saja siapa yang tidak kaget tangannya ditarik oleh pria yang tidak dikenalnya. Tapi sepertinya dia menyadari situasi kami sekarang dan mengikutiku kebalik tirai
Ternyata di balik tirai itu terdapat sebuah ruangan kecil dengan meja di dalamnya. Sangat kecil untuk dimasuki oleh dua orang, yang membuat kami saling berdempetan di dalamnya.
“cepat taruh lukisan itu disini dan ambil sisanya di luar” ujar seorang wanita yang mungkin manajer tempat ini kepada pesuruh-pesuruhnya yang membawa lukisan yang sepertinya akan dipajang di ruangan ini.
Jantungku mulai berdetak tak keruan, disamping orang-orang yang masih bolak-balik ke luar masuk ruangan ini juga karna wanita yang kini sedang berada di pelukanku. Wanita ini tak lebih tinggi dariku, puncak kepalanya hanya sampai menyentuh daguku. Aku bisa merasakan nafasnya yang memburu menyentuh leher dan detakan jantungnya yang tak karuan.
Situasi yang membuatku tak bisa berpikir normal, ditambah lagi dia menengadahkan kepalanya menuntut untuk dilepaskan. Tiba-tiba saja aku menciumnya, terkejut dengan responnya yang akhirnya membalasku.
Semuanya berjalan begitu cepat, desahan lembut dan erangan wanita ini membangkitkan panas dan ketegangan di dalam diriku tanpa bisa dihentikan. Aku menikmati menghabiskan waktu dengannya bahkan hanya di dalam tempat seperti ini, tapi dia pergi begitu saja dan meninggalkanku dalam keadaan penasaran. Who is she?? Why she makes me so crazy?? Bisikku dalam hati.
Getaran dari dalam saku membuatku tersentak, ku rogoh saku celana dan mengeluarkan ponselku, nama Minho hyung tertera disana. Kutekan tombol ANSWER dan menjawab panggilannya
“yoboseyo” sapa orang di seberang sana
“ne hyung, kau sudah dirumah?” tanyaku padanya
“eo,, myungsoo-ya, neo eodiga?” dia balik Tanya
“on my way hyung” jawabku sambil bergegas keluar dan memastikan bajuku telah terpasang dengan sempurna.
***
“hyung.. itu istrimu?” tanyaku kaget ketika memasuki ruang tamu dan melihat sebuah foto tergantung disana.
“menurutmu?” jawabnya acuh tanpa repot-repot mau memalingkan mata dari buku yang sedang dibacanya
Kekagetan menghampiriku ketika melihat sebuah potret dalam pigura dihadapanku, andwae.. tak mungkin itu dia. Kuperhatikan wajah di foto itu lekat-lekat, tak perlu melihatnya lebih dekat karna ukuran fotonya yang memang sudah besar. Wanita itu, memiliki wajah yang sama dengan wanitaku di ruang kecil di balik tirai tadi.
“namanya??” tanyaku setengah tak sabar kepada Minho hyung
“park heemin, sebelum aku mengubahnya menjadi lee heemin” jawabnya
“lee hemin” gumamku mengulang nama yang diucapkan minho hyung barusan “aku tak sabar bertemu dengannya” ucapku setelah bisa mendapatkan kesadaranku kembali.
“hmm.. sepertinya dia sudah pulang” kata Minho hyung ketika mendengar suara pintu depan terbuka dan aku mendengar langkah kaki mendekati ruang tamu.
Dan itu dia, masih dengan baju yang dikenakannya tadi sore, menatapku dengan keterkejutan yang sama dengan ketika aku melihat wajahnya di foto. Aku tak tahu harus bagaimana selain tersenyum melihat ekspresi kagetnya. Finally, I’ve found you my naughty lady, bisikku dalam hati.
***
Kring.. Kring..
Kuraih alarm di atas meja dan menekan tombolnya sembarangan agar berhenti berdering. Kupandangi langit-langit kamarku, mengingat kejadian semalam.
Semalam setelah diperkenalkan secara resmi oleh Minho hyung, aku tak punya kesempatan berbicara dengan Heemin, karena dia sudah buru-buru menghindariku dengan alasan ingin ke kamar mandi dan tidak keluar lagi dari kamarnya. Minho hyung kemudian mengantarkanku ke sebuah kamar yang ada di sebelah ruang makan, Cuma beda 2 ruangan dari kamarnya.
Dengan enggan aku beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu keluar, berhubung di kamar ini tidak ada kamar mandinya jadi aku harus menggunakan kamar mandi yang ada di disebelah dapur.
Kulangkahkan kakiku menuju dapur dan kaget ketika mendengar pecahan kaca dari sana, kualihkan mataku kesana dan melihat Heemin yang sepertinya kaget dengan kehadiranku dan menjatuhkan apapun yang tadi sedang dipegangnya
“morning..” sapaku basa-basi. Dia tak menjawab pertanyaanku dan segera sibuk membersihkan pecahan kaca dengan tangannya. Tapi sepertinya kurang hati-hati karena pecahan itu malah masuk menusuk tangannya. Reflex aku bergerak ke arahnya untuk membantu, meraih tangannya dan mencoba menghentikan pendarahannya dengan mulutku.
sengatan yang memabukkan itu kembali melandaku, “oh tuhan” pekiknya ketika sadar jarinya telah berada dimulutku, tangannya bergetar di tanganku. Dia malah mendorong pundakku untuk melepaskan jarinya, tapi posisi dudukku yang tak stabil malah membuatku terjatuh dan menariknya kepelukanku. Kini posisinya berada tepat di atasku. Kaget dengan apa yang terjadi, dia buru-buru berdiri, dan entah setan apa yang telah merasukiku untuk tak melepaskannya, malah menariknya lebih dekat ke arahku.
Aku tak bisa membohongi diriku sendiri, tak bisa mengalihkan rasa lapar yang menghantui otakku. melihatnya sedekat ini dalam dekapanku membuatku ingin menyentuhnya lebih jauh, merasakan kehangatan tubuhnya.
“kau tak boleh begini Kim Myungsoo” desisnya ketika aku menyibakkan rambut dari lehernya, mengecupnya perlahan. Aku tahu apa yang dimaksudnya, tapi mendengarnya menyebut namaku malah membuat rasa laparku semakin menjadi-jadi.
“aku peringatkan kau, jangan mengabaikanku” pekiknya sambil berontak dalam pelukanku
“tak akan my lady, dari sekian banyak kata-kata yang akan kulakukan untukmu, aku tak akan pernah mengabaikanmu” balasku berbisik ditelinganya, sambil menghentikan upayanya untuk melepaskan diri dengan melumat mulutnya dengan bibirku, melepaskan gairah yang sudah tak bisa kutahan lagi.
Dia berontak semakin keras, tapi malah membuatku semakin kehilangan kesabaran dan menangkupkan tanganku ke dadanya. Aku tahu dia sudah mulai menyerah seiring tanganku yang kini sedang memijat lembut di dadanya yang sudah mulai mengeras, sementara lidahku menari dibalik daun telinganya. Nafasnya mulai memburu menikmati setiap sentuhan, tangannya menyentuh dan menjambak rambutku. “I know you want me, huh?” bisikku ditelinganya.
Sebuah pikiran melintas diotakku, akan kubuat wanita ini menginginkanku seperti aku menginginkannya. Jadi kulepas pelukanku dan mendorongnya ke samping, kemudian bangkit berdiri, menghindarkan pikiran untuk kembali kepelukannya “mau kemana?” panggilnya gemetar. Kuarahkan pandanganku ke kamar mandi “tapi.. kita.. kau..” lanjutnya tertahan.
“open it for me” perintahku sembari meleparkan pandangan ke baju yang dikenakannya
“ohh..” shock mendengar perintahku barusan
“aku hanya akan menyentuh bagian tubuhmu yang kau berikan untukku” tambahku. Aku tahu dia ragu, takut kalau-kalau dia berubah pikiran dan menghentikan apa yang telah kumulai dengan susah payah.
Kemudian aku terpana melihatnya mulai menurunkan zipper kemejanya untukku. Mataku silau melihat gundukan di balik bra warna hitam itu, jejak-jejak bibirku kemarin masih terlihat membekas disekitar tengkuknya. Kutarik nafas dan perlahan mendekatinya, susah payah menahan senyum kemenangan dari wajahku.
Kuikuti jejak tangannya yang tengah dalam usaha mengekspos tubuhnya untukku. Menurunkan telapak tangan ke kulitnya. Sepertinya dia menunggu sentuhanku berikutnya, saat tanganku menyelinap ke punggungnya dan membuka kaitan yang ada dibelakangnya. Tapi aku takkan melakukannya, karena tanganku kembali membelai bahu telanjangnya.
“tapi—“ serunya sambil memandangku
“hanya yang kau bukakan untukku Heemin” ujarku
Dengan frustasi dia membuka kaitan dibelakangnya dan melempar bra itu sembarangan, yang langsung kusambut dengan menangkupkan tanganku keatasnya. Dia mendesah semakin kuat ketika jari-jariku menemukan puncak payudaranya yang telah mengeras.
Dia mengerang, melengkungkan punggungnya, mendorong payudaranya semakin dekat ke tanganku. Aku tidak akan mengecewakannya, tangan ku meninggalkan payudaranya, beralih menggoda bagian dalam payudaranya, lalu menjelajahi tulang iganya dengan sentuhan ringan, membuat tubuhnya bergetar dalam pelukanku.
Tanpa sadar, dia sudah menelanjangi dirinya lagi untukku, menarik bajunya semakin kebawah. “lagi.. puaskan aku..” bisiknya terengah-engah, memohon untuk kusentuh
“kau tahu peraturannya Hee..” jawabku menanggapi permohonannya, mengalihkan bibirku ke telinganya yang lain dan membiarkan jari-jariku menari di atas perutnya. “naikkan rokmu. Angkat ke atas, dan bukakan kakimu untukku” bisikku “cepat” jujur, aku sudah tahan lagi bermain lama-lama dengannya.
Ia meringis saat menarik bagian bawah roknya, dan menariknya hingga ke pinggang. Heemin membuka celana dalamnya dan mengangkat tubuhnya sedikit untuk menurunkan celana itu ke lantai, kemudian mengangkat pergelangan kakinya hingga sepenuhnya terbebas.
“touch me” katanya sembari mengarahkan tanganku ketubuhnya
Aku segera membopongnya dan mendudukkannya di atas cabinet dapur. “pegang leherku” perintahku yang langsung diikutinya. Kusibakkan roknya, dan tersenyum mengagumi hadiahku “palliii..” desaunya ditelingaku.
Kucengkeram pahanya dan membukanya lebih lebar, kemudian membelai bagian dalam pahanya sebelum memasukkan jari ku kesana. Heemin melengkungkan tubuhnya ke arahku, membuat jariku semakin menghunjam masuk ke dalam dirinya. Sementara satu tanganku sibuk menjelajahi bagian bawahnya, tangan kananku menyusup ke tengkuknya, merengkuhnya ke arahku, meredam desahannya dengan mulutku.
“myungsoo-yaa.., jebal-arghh..” pinta Heemin “aku.. aku tidak.. tahan lagii…”
“sial..” umpatku, tidak bisa menahan lebih lama lagi, pikiranku diselimuti gairah yang sangat besar. Kubuka kancing celanaku dengan tidak sabar, aku sangat ingin membenamkan diri ke pangkal pahanya dan menghunjam ke dalamnya sampai dia berteriak di bawahku.
Heemin menggigit bahuku ketika ia mencapai puncaknya, mendesah pelan dalam mulutku, tubuhnya bergetar hebat dalam pelukanku “oh, oh, Tuhanku” desahnya, dan aku tidak bisa untuk tidak tersenyum menikmati responnya.
Selanjutnya aku menggendongnya tanpa berniat melepaskan kontak di antara kami, kejantananku masih dalam keadaan setengah terangsang dalam dirinya. “YA.. apa yang kaulakukan.. turunkan aku” perintahnya dan mengeratkan pegangannya di sekitar leherku, menjaganya agar tidak jatuh.
Kutegakkan tubuhku dengan perlahan, menjaga posisi kami agar seimbang “sebentar lagi, sayangku” kataku sembari membawanya masuk kekamarku
“myungsoo-ya, aku.. aku tidak yakin aku masih sanggup” jawabnya bergetar di pelukanku
Kubungkam mulutnya dengan ciumanku agar tak banyak protes, dan menidurkannya di atas tempat tidurku. “ada terlalu banyak pakaian” jelasku sambil menyentuh rok yang masih mengelilingi pinggulnya “kali ini kau yang memutuskan sampai sejauh mana kau sanggup” tambahku
“ya” balasnya dan membiarkanku memasukinya lagi.
***
Aku terbangun dan kaget ketika melihat Heemin sudah tidak ada disampingku. Kuraih celana yang tergeletak di lantai dan memasang sekenanya. Aku keluar dan tak menemukannya di ruang manapun, kulanjutkan mencarinya ke taman belakang dan melihatnya sedang duduk di bangku dekat kolam ikan.
“apa yang kaulakukan disini?” tanyaku menghampirinya.
“kau sudah bangun” katanya menoleh ke arahku.
“eo..” jawabku mengambil posisi duduk disebelahnya. Hening lama sampai akhirnya dia meletakkan tangannya ke atas tanganku “myungsoo-ya” panggilnya
“ne, chagiya..” jawabku meraih dan mencium tangannya. Dia tersentak dan cepat-cepat melepaskan tangannya dariku “ahh.. mian” ujarnya “aku.. aku..” lanjutnya terbata-bata
“be my girl, please” pintaku langsung padanya
“mwo?” pekiknya kaget “neo micheosseo?”
Kuraih kembali tangannya dan meletakkannya di dadaku, meyakinkannya kalau aku tidak sedang main-main “pikirkanlah, my dear. Apa gunanya satu malam? Satu kali selingan? Jika kau pikirkan, itu tidaklah cukup, tidak peduli betapa pun memuaskannya”
Heemin menggelengkan kepalanya tak percaya “aku..” ucapnya tak tahu harus melanjutkan apa
“tidak ada satupun di antara kita yang ingin berada di posisi ini, tapi aku tidak akan melepaskanmu semudah itu” kataku meyakinkannya
“tapi.. aku..” katanya, tangannya menegang dalam genggamanku, seolah menegaskan cincin yang terlingkar di jari manisnya.
“aku tak memintamu untuk meninggalkannya, just let be mine, Heemin-ya”
“ini terlalu mendadak” bisik Heemin, melihatku dengan pandangan gugup
“tidak terlalu mendadak chagiya..” ku tarik dia kedadaku “aku rasa kau telah menunggu terlalu lama, untuk merasakan gairah, untuk mengalami keintiman yang sebenarnya” ujarku menekankan kata-kataku padanya
“tapi.. bagaimana dengan Minho, kalau dia tahu, aku mati.. apa yang dikatakan orang-orang..” pekiknya tertahan
Kucium bibirnya untuk meredam protes, dia menyerah seiring gerakan lidahku di mulutnya dan mulai menyesuaikannya. “ohh.. baiklah” desaunya, kemudian mendorong bahuku “kau tahu, suamiku mungkin pulang sebentar lagi” katanya kemudian menempelkan bibirnya ke bibirku “sebaiknya kau bersiap kalau tak ingin dia tahu” lanjutnya lalu berjalan meninggalkanku
“ne,, arasseo..” jawabku sembari memperhatikan langkahnya memasuki pintu belakang. Aku tak bisa menghentikan senyum kemenangan di wajahku.
***
Heemin Side
Sudah beberapa bulan ini aku menjalani affair ku dengan Myungsoo, ppabo namja, yang lebih memilih menjadi selingkuhanku dari pada memilih satu dari ribuan gadis di luar sana, yang aku bertaruh tidak ada yang akan menolaknya.
Percintaan kami terbukti menjadi pengalih perhatian terhadap hubunganku dengan Minho, meskipun tidak bisa dipungkiri kalau aku tidak bisa untuk tidak mencintainya, tapi Myungsoo mampu memberikanku sesuatu yang lain, yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
“kau yakin tidak akan menyesal?” tanyaku ketika dalam pelukan Myungsoo “aku mungkin tidak memberikan perasaan dalam hubungan ini” lanjutku sambil mencoba memandangnya.
“tak ada kata menyesal dalam kamusku, dear” balasnya tanpa menghentikan usahanya untuk mencumbuku
Kupejamkan mataku, mencoba untuk tidur, tapi tak bisa ketika aku memikirkan pengkhianatanku kepada pria yang kini sedang tidur disebelahku, suamiku.
Aku berbalik untuk memandangnya, “kenapa kau tidak mencintaiku saja?” bisikku sambil mengalihkan rambut yang menutupi wajahnya. “begitu sulit untukku melupakanmu” lanjutku, sangat pelan sehingga tidak mungkin untuk didengarnya.
Kembali kupandangi langit-langit kamar, memikirkan hubungan terakhir kami dikamar ini, sekitar 3 bulan yang lalu. Hari yang sama ketika sebelumnya aku mengetahui alasannya menikahiku. Mengingatnya malah membuatku tidak bisa tidur.
Kuputuskan untuk keluar kamar dan menuju halaman belakang. Ternyata bukan hanya aku yang tidak bisa tidur malam ini, aku bertemu Myungsoo yang sedang mengambil cemilan di dapur. “sudah pulang?” sapaku, berjalan ke arahnya, yang hanya dijawabnya dengan sebuah anggukan
“tak bisa tidur, heh?” tanyanya sambil memamerkan senyumnya padaku, membuat matanya hanya menjadi sebuah garis tipis.
“eo…” jawabku membantunya membawa mangkuk yang telah diisi keripik dan beberapa kaleng cola ke halaman belakang
“kau tahu, aku hampir ingin menggedor kamarmu barusan” katanya ketika kami tengah duduk menikmati suasana malam di halaman belakang. Tangannya telah menemukan tanganku di tepian bangku dan menariknya ke arahnya
“wae?” tanyaku sambil tersenyum. Aku tahu maksudnya, kami memang tidak bertemu seharian ini, aku harus mengirimkan script ku yang sudah hampir deadline ke kantor dan mengurus pekerjaan lainnya sementara Myungsoo kerja lembur dan baru pulang ketika aku dan Minho sudah tidur.
“neomu bogosipneyo” jawabnya sambil mengecup punggung tanganku. Aku tertawa mendengar pernyataannya barusan “jeongmalyo?” tanyaku menggodanya
“saranghae, Heemin-ya” bisiknya sambil terus menciumi sampai ke lenganku, menarikku dalam dekapannya. Sudah berapa kali aku mendengar kata itu terlontar dari mulutnya, tapi hanya ku anggap sebagai bumbu dalam hubungan kami, Karena kau akan semakin menggila ketika pasanganmu mengatakannya sembari mencumbumu.
Kutarik diri dari pelukannya, kecewa pada diriku sendiri karena membohongi api yang sudah mulai berkobar dalam diriku, kucoba untuk memadamkannya kembali. “nado..” jawabku sambil berpaling darinya.
“apa yang kau pikirkan?” tanyanya menarik bahuku sehingga dia bisa menatap masuk kemataku, mencoba membaca pikiranku
Aku balas memandang tatapannya, tapi malah membuatku menyesal dan mengalihkan pandangan pada rumput dibawah kakiku “entahlah.. semakin kesini aku semakin merasa jijik kepada diriku sendiri” jawabku pelan “mengkhianati suamiku tepat didepan hidungnya, bersama temannya sendiri” kataku, menatap nanar lampu taman
“kau pikir begitu?” tanyanya sambil menghembuskan napas pelan. Hening lama, sampai dia memulai percakapan kembali “naeggeo haja, Heemin-ya” pintanya
“I’m already” jawabku tanpa melepaskan pandanganku pada lampu taman. Kemudian dia menarikku untuk yang ke dua kalinya, membuat pandangannya sejajar dengan pandanganku
“bukan yang seperti itu, aku ingin kau menjadi milikku sepenuhnya, seutuhnya milikku” katanya sungguh-sungguh
“jangan bercanda Kim Myungsoo” delikku padanya, aku bisa merasakan kalau dia tidak sedang main-main
“aku serius, my dear, aku takkan main-main kali ini” ujarnya, meraih kedua tanganku dan menariknya tepat kejantungnya “aku akan dipindah tugaskan ke London 2 minggu lagi, aku tak mau kehilanganmu” jelasnya “saranghaeyo,, I love you,,” bisiknya, menekankan setiap kata-katanya kepadaku “beritahu aku kata-kata lain yang bisa mengekspresikan rasaku padamu agar kau bisa percaya”
Aku tidak pernah sekaget ini sebelumnya, tidak mungkin dia mencintaiku, tidak.. tidak boleh “aku sudah memperingatkanmu Kim Myungsoo” bisikku kemudian “tolong.. jangan lakukan dengan hati” lanjutku mengulang pernyataan yang sudah pernah kuutarakan padanya sebelumnya
“aku tahu.. tapi aku bisa gila kalau tak mengatakannya padamu, bagaimana kau bisa menghilangkan rasa yang terlanjur ada dalam dirimu. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri, my love, kau sudah seperti bagian dari diriku, terlalu sakit untuk kehilanganmu” ucapnya sembari mengecup kembali kedua tanganku dalam genggamannya
Kulepaskan tangannya dengan kasar, ngeri mendengar pernyataannya barusan. “andwae.. kau tidak boleh..” ujarku, tak bisa menyelesaikan kata-kataku sendiri. Mataku terasa perih, air mata mengalir dari kedua sisinya. Segera kutinggalkan Myungsoo yang sedang memandangku
“kau tidak bisa membohongi dirimu Lee Heemin, pikirkan baik-baik permintaanku” katanya seiring aku berjalan ke arah pintu.
Aku berbelok di ujung koridor dan berjalan menaiki tangga, kuputuskan untuk tidur di kamar tamu yang ada di lantai atas. Kurebahkan tubuhku di sofa yang ada disana, sembari memandang kebalik jendela yang memantulkan cahaya dari lampu taman. Dia masih ada disana, kursi yang sama .
Apa yang membuatnya mencintaiku, melanggar perjanjian yang telah dibuat sebelumnya, untuk tak mencintai satu sama lain. Kurasakan debaran jantungku semakin cepat ketika mengingat senyumannya, caranya menyentuhku. Apakah aku juga telah melanggar janji itu? Cepat-cepat kutepis pikiran barusan. Aku tak bisa mencintainya, tak boleh.
***
“kiriman untuk Lee Heemin” ujar kurir tersebut sambil meletakkan antarannya di atas mejaku. Sebuah buket bunga mawar berwarna merah dan merah muda terangkai indah di dalam pot kecil.
“untukku?” seruku heran lalu mengambil kartu yang menempel di salah satu daunnya. FOR MY DEAREST, LEE HEEMIN tercetak rapi di dalamnya tanpa tercantum nama pengirimnya
“eciee.. yang dapat karangan bunga” goda Chaerin, teman seruanganku “dari siapa tuh?” tanyanya sambil mengintip ke kartu yang kupegang “ohh.. my dearest Heemin?” gumamnya membaca kalimat yang tertulis disana
Pikiranku tertuju pada seorang pria yang semalam memintaku menjadi wanitanya, pria yang telah kupatahkan hatinya dengan melarangnya untuk tak mencintaiku, benarkah ini karangan bunga dari Myungsoo? Kubalik kartu ditanganku mengharapkan petunjuk lebih. Ternyata ada lembar lain dibaliknya yang kemudian kubuka. Nama sebuah restoran tertulis di lembarannya, diikuti dengan sebuah tulisan ‘meet me there at 9pm’ dibawahnya.
“undangan makan malam?” Tanya Chaerin “uwaah.. aku tak menyangka Minho oppa bisa begitu romantis”
“who knows” kataku sambil mengangkat bahu menanggapi Chaerin. Kemudian duduk dimejaku, mengagumi serangkaian mawar yang ada dihadapanku.
***
Aku pulang agak cepat dari kantor. Setelah pulang untuk berganti baju aku segera menuju ke restoran yang tertera di kartu yang diantarkan padaku tadi pagi.
Taksi yang kutumpangi masuk ke tampat parker sebuah restoran. Segera kulangkahkan kakiku menuju restoran itu, tak ada satupun pengunjung, sepertinya tempat itu telah dipesan khusus untuk malam ini. Aku bergidik ketika angin membelai lembut tengkukku, kupercepat langkahku untuk masuk kedalamnya.
Beberapa lilin tersusun berjajar dalam sebuah mangkuk-mangkuk kecil sehingga membentuk sebuah jalan di sisi-sisiku. Aku menyusuri lilin di sepanjang koridor itu, membawaku ke sebuah ruangan. Sebuah meja makan terletak di tengah, lengkap dengan sajian makan malam diatasnya, lebih banyak lilin di lantai dan taburan-taburan mawar, membawa kesan romantic pada ruangan itu.
Dan disanalah priaku berdiri, lengkap dengan setelan jasnya, sepatu pantofelnya mengilap karena cahaya lilin, dia sedang berbalik memandang jendela. Aku menoleh untuk melihatnya, tak bisa melihatnya lebih jelas dari sini karena terhalang balon dan kertas hias yang menggantung dari atas.
Aku berjalan lebih dekat kearahnya, sepertinya dia sadar akan keberadaanku. Dia berpaling dan tersenyum menyambutku “kau sudah datang” sapanya
“op.. pa..” panggilku terbata, kaget ketika tahu siapa yang telah mengirimkan bunga dan undangan makan malam padaku tadi pagi
“happy 1st anniversary” katanya sambil mengulurkan tangannya ke arahku
“eh?” gumamku
“jangan bilang kau lupa” desaknya, berjalan ke arahku. Kemudian membimbingku ke sebuah kursi, mendudukkanku disana
Benarkah sudah setahun? Secepat itu? Tapi.. kenapa aku bisa melupakannya
“kau lupa?” tanyanya lagi
“ahh.. aniya, bagaimana mungkin aku melupakannya” jawabku. Bagaimana mungkin aku lupa sementara dia mengingatnya “aku malah berpikir kau yang akan lupa” ujarku bermaksud mengujinya
“mana bisa aku melupakannya, hari paling penting dalam hidupku” yayaya.. hari dimana kau merusak hidupku, sambungku dalam hati
“saranghae Heemin-ya” katanya sambil menggenggam tanganku di ujung meja. Aku shock mendengar kata-katanya barusan, dari setahun pernikahan kami, baru sekarang dia mengatakan mencintaiku, bahkan sebelum aku masih mengejarnya, selalu aku yang berkoar-koar menanamkan kata-kata itu ke kepalanya
“apa maksudnya?” tanyaku tak percaya dengan apa yang kudengar
“apa yang kauharapkan dari orang yang menikahimu?” Minho balas bertanya
“kau mencintaiku” kataku, menegaskan apa yang dikatakannya barusan
“tentu saja, lalu apa alasanku menikahimu kalau tidak mencintaimu” ujarnya
“kapan??” tanyaku, masih tak percaya
“maksudnya?” balasnya heran, kemudian berdiri dari kursinya dan menarikku tanganku untuk berdiri disebelahnya “sepertinya aku harus mengingatkanmu” ujarnya lalu sambil merengkuh wajahku dengan tangannya dan mencium bibirku
Aku terlena dalam peluknya, baru kali ini dia memperlakukanku begini. Sekilas wajah yang lain melintas di otakku, pria yang berbeda yang belakangan ini selalu memelukku. Buru-buru kulepaskan bibir kami yang saling terkait dan mendorongnya pelan
“kau sungguh-sungguh mencintaiku?” ujarku membalas pandangan heran di wajahnya
“kau kenapa Lee Heemin??” Tanyanya semakin bingung
“aku… aku… aku tak menyangka kau benar-benar mencintaiku, ku kira kau..” jawabku terbata, tak tahu bagaimana menjelaskan isi dalam pikiranku
“yah.. maafkan aku yang tidak peka, aku tidak jujur pada diriku sendiri. Malam itu, ketika aku melamarmu, orangtuaku menjodohkan aku dengan gadis lain. Aku tak tahu harus bagaimana, kau tahu aku tak pernah dekat-dekat wanita lain selain dirimu” jelasnya
“tapi, kukira kau menikahiku karena tak ada pilihan lain” tudingku langsung padanya. Dia memandangku tak percaya “aku sadar aku mencintaimu jauh sebelum malam itu, aku sudah terbiasa ada kau disampingku. Aku yang bodoh tidak mengatakannya sejak dulu” katanya sambil mengelus puncak kepalaku “saranghaeyo Lee Heemin” tambahnya, tersenyum padaku.
Tiba-tiba kepalaku pusing, lututku goyah dan aku terjatuh dibawahnya, apa yang telah kulakukan. Kenapa dia baru memberitahuku sekarang, setelah aku mengkhianatinya sejauh ini.
“Heemin-ya..” panggilnya, menarikku berdiri. Kutahan diriku tetap dibawah, tak mampu menatap matanya “op.. pa.. mian.. mianhae.. jeongmal mianhae..” ujarku, sesenggukan, tak tahan menahan air mata yang sudah mengalir deras di sela mataku “naega jalmothaesseoyo”
“kau sakit atau apa?” tanyanya sembari menunduk mencari mataku, meminta penjelasan.
Semuanya keluar begitu saja, pengakuanku, hubungan gelapku selama ini dengan Myungsoo, temannya sendiri. Dia menatapku dengan nanar, kemarahan tergambar jelas diwajahnya. Kemudian dia berdiri, mengambil mantelnya dan berjalan ke arah pintu
“oppa.. mianhae..” teriakku, menahan kakinya agar tak pergi, agar aku bisa menjelaskan semua padanya, agar dia memaafkanku. Dia hanya diam saja, sebelum akhirnya memisahkan tanganku dari kakinya dan berjalan ke luar meninggalkanku. Aku bisa mendengar dia menghantam sebuah meja di ujung ruangan sebelum keluar.
Aku berdiri dan melihat ke sekeliling ruangan, tempat ini sangat indah. Penyesalan menyelimuti diriku, kenapa aku bisa berbuat sejauh ini.
Kuputuskan untuk meninggalkan restoran ini, berada disini malah membuatku membenci diriku sendiri. Taksi yang kupesan baru saja tiba, cepat-cepat aku masuk kedalamnya.
“mau kemana nyonya?” Tanya sopir taksi kepadaku. Kemana saja, asalkan tidak ke rumah, pikirku, kemudian memberikan tujuanku kepadanya.
***
Myungsoo Side
naeggeohaja naega neol saranghae, eo? naega neol geokjeonghae, eo?
naega neol kkeutkkaji chaegim jilge
naekkeohaja nig anal al janha, eo? niga nal bwatjanha, eo?
naega neol kkeutkkaji jikyeojulge
aku baru melangkahkan kaki keluar kantor untuk memeriksa berkas-berkas kepindahanku, ketika ponsel di sakuku berbunyi, buru-buru kurogoh saku celana untuk mengeluarkannya. Aku tahu siapa yang menelpon, aku sudah mengatur ringtone ku kalau-kalau dia yang menelpon. Aku tersenyum menatap layar ponsel ketika nama Heenim tertera disana
“ne, chagiyaa..” sapaku
“oh.. maaf” jawab suara di seberang sana, suara seorang laki-laki
“yo.. yoboseyo” ulangku
Ternyata dia adalah seorang bartender di salah satu bar. Katanya, si pemilik ponsel sedang mabuk berat dan tak berhenti minum di tempatnya bekerja. Aku segera mengambil mobil dan melaju ke bar yang disebutkan oleh bartender tadi.
“terima kasih tuan, maaf mengganggu malam anda” ujarnya ketika aku membawa Heemin keluar “saya hanya menekan no 1 pada speed dial nya” kata si bartender sambil membungkuk padaku
“speed dial no.1” gumamku mengulang pernyataannya barusan, kupandang Heemin yang kini sedang dalam dekapanku. Am I your no. 1?? Pikirku terkekeh dalam hati “ahh.. gwaenchana” kataku kepada si bartender sambil menyelipkan selembar uang padanya.
“Heemin-ya irreona..” bisikku sambil membetulkan gendonganku agar dia tidak jatuh. Heemin menggumam tidak jelas kemudian melihatku “myungsoo?? Kim Myungsoo.. myungsoo-yaa” serunya, antara sadar dan tidak “emm.. naega..” jawabku, membawanya ke parkiran “sebaiknya kau bangun, aku akan membawamu pulang” lanjutku
“pulang?? Pulang ke mana?? Rumah itu?? Nonono…” ujarnya mencak-mencak dalam pelukanku “aku tidak mau pulang myungsoo-ya.. shirreo..”
“terus kau mau kemana?” tanyaku pelan
“Anywhere, but not that home” gumamnya, merengkuh mukaku dan menempelkan bibirnya ke bibirku
Aku rasa aku tahu kau mau kemana, my dear. Pikirku sambil membalas ciumannya.
***
“op.. pa…” desau Heemin
Tanganku tersentak dalam usahaku untuk menaggalkan pakaiannya. Kuhentikan ciumanku di bibirnya, sejak kapan dia memanggilku oppa? Tanyaku dalam hati “jadi.. aku oppamu?” tanyaku padanya
“emm.. nae oppa, palli..” jawabnya kemudian menempelkan kembali bibirnya padaku
Aku tersenyum melihat tingkahnya seperti ini, tanganku menarik gaun yang sedang digunakannya, sampai payudaranya yang telanjang tersingkap di depan mata. Segera kukulum ujungnya yang sudah mulai mengeras, dia menggeliat di depanku membuatku semakin tak sabar untuk berhenti bermain-main dengannya. Tapi tunggu dulu, masih banyak waktu, malam ini masih panjang, pikirku.
“minho op.. pa..” bisiknya di telingaku
Mwo?? Minho?? Tanyaku tak percaya dengan yang kudengar barusan. Kuhentikan pekerjaanku pada tubuhnya, bagaimana mungkin dia bisa mengingat pria itu ketika sedang bersamaku.
“jebal arghh…” ujarnya memohon kepadaku, melengkungkan tubuhnya hanya untuk menemukan bibirku
Bagaimana caranya menghentikan apa yang telah kau lakukan di tengah jalan, pikirku. Selesaikan saja, mungkin dia sedang mabuk, kataku meyakinkan diri “call my name, honey” perintahku, sambil memeluknya
“minho, minho, lee minho” ujarnya tak focus
Mendengar nama pria itu disebut lagi malah membuatku semakin naik darah, OK.. aku tahu dia mabuk, tapi kesabaranku ada batasnya Lee Heemin, kau tak boleh mengabaikannya begitu saja.
Kuraih kedua tubuhnya kemudian mengangkatnya, hanya untuk memutar tubuhnya. Kucengkeram dengan erat untuk mendudukkannya di atas pangkuanku. Dia tersentak ketika menyadari gerakan cepatku, aku tidak bisa mengontrol apapun lagi sekarang, tidak ada ‘ramah tamah’ untuk kali ini.
Tanganku menyusup masuk ke lipatan gaunnya, menariknya hingga terlepas dari tubuhnya. Kemudian hanya dengan satu sentakan melepaskan penghalang terakhir yang menghalangiku. Kemudian mendorongnya sedikit kedepan untuk membebaskan kejantananku yang sudah mulai membengkak dan sudah tidak sabar untuk bisa masuk ke selubung wanita yang kini tengah dipangkuanku.
Aku menghunjam ke dalam dirinya dalam satu gerakan kuat, tanpa menunggu desahannya untuk mengundangku masuk atau membiarkannya untuk membiasakan diri. Heemin mengerang dalam pelukanku, merasakan sakit karena paksaanku untuk masuk ke dalam pangkal pahanya yang belum basah sempurna.
Aku terus menghunjam ke dalam dirinya dengan lebih cepat dan lebih kuat, menghukumnya dengan tubuhku, sementara dia hanya bisa mencengkeram tiang tempat tidur dibelakangku. Heemin berteriak saat ledakan orgasme membuatnya kehilangan kendali, kuredam teriakannya dengan mulutku, sementara aku terus menghunjamnya lebih cepat.
Aku ingin dia merasakan apa yang kurasakan, apakah salah mencintai seseorang. Aku tahu tidak mungkin untuknya menerimaku, tapi tolong hargai perasaanku yang sungguh-sungguh mencintainya.
“jebal.. argh.. aku tak tahan lagi..” erangnya melepaskan bibirnya dariku
Berulang kali aku menghunjam, semakin lama semakin cepat, sampai akhirnya mencapai klimaksku sendiri. Heemin merosot jatuh dalam pelukanku, nafasnya membaur dengan nafasku. Sampai dengan perlahan aku mendapatkan kesadaranku kembali dan menggesernya ke tempat tidur.
“oppa mian.. maaf telah mengecewakanmu, maaf..” bisiknya parau kemudian bergelung dalam tidurnya
Kupandangi wajah yeoja yang ada disampingku, bahkan setelah yang kulakukan terhadapnya, belum bisa mengalihkan pikirannya dari pria itu “kau menolakku kan, tak ada yang bisa kulakukan untuk membuatmu melupakannya” kataku sambil membelai rambutnya.
***
Author side
Heemin bangun pagi itu dengan rasa ngilu luar biasa pada pangkal pahanya, dia mengamati tubuh nudenya dari balik selimut. Kepalanya masih sedkit pusing karena pengaruh alcohol yang diminumnya semalam. Matanya menjelajahi sekeliling ruangan, merasa asing dengan yang dilihatnya.
Dililitkannya selimut ketubuhnya, mencoba mencari pakaian yang dikenakannya semalam. Kakinya menginjak sebuah gaun berwarna krem di bawah tempat tidur, yang langsung dikenakannya. Kemudian matanya teralihkan ke meja disamping tempat tidur, sebuah amplop coklat besar terletak diatasnya. Heemin mengambil amplop itu dan mengeluarkan isinya di atas tempat tidur. Sebuah tiket pesawat menuju London dengan jadwal penerbangan hari ini dan berbagai berkas-berkas lainnya keluar dari dalam amplop, Heemin mengguncang amplop itu kembali dan secarik kertas meluncur dari dalamnya. Diambilnya kertas itu dan membacanya dengan cepat
“kuputuskan untuk pergi hari ini, lebih cepat dari yang dijadwalkan, heh? Tak usah kuatir, aku takkan menyalahkan keputusanmu.
Tiket dan segala macamnya itu hanyajaga-jaga kalau kau berubah pikiran dan ingin menyusulku, hahaha… aku takkan berharap banyak
Terima kasih untuk segalanya,
Kim Myung-Soo”
Heemin membaca kertas itu berulang-ulang, Myungsoo, jadi dia yang bersamanya semalam. Diraihnya mantelnya yang berada di ujung sofa, meraba saku untuk mencari ponselnya, kemudian menekan speed dial no 1 yang secara sengaja ditambahkannya kalau-kalau dia sangat membutuhkan pria itu.
“yoboseyo” jawab orang di seberang sana
“YA.. Kim Myungsoo, apa-apaan kau” bentak heemin
“Hahah.. kau sudah bangun?” tanyanya, seperti tidak pernah ada masalah di antara mereka
“neo eodiga? Beraninya kau meninggalkanku disini sendirian, huh?”
“mianhae,, aku tak tega mengganggu tidurmu” jawab Myungsoo, santai
“neo eodiga??” Tanya Heemin sekali lagi
“aku.. airport” jawab Myungsoo sambil membetulkan letak ransel di pundaknya “wae, kau ingin menyusulku?” godanya
Cepat-cepat Heemin memutuskan sambungan telponnya, dimasukkannya barang-barang yang berserakan di atas tempat tidur ke dalam amplopnya, kemudian melirik ke jam yang ada di ponselnya masih ada waktu untuk mengejar namja itu ke bandara.
***
Myungsoo Side
Pandanganku tak henti-hentinya kuarahkan ke pintu bandara tempat orang lalu lalang. Kupandangi jam yang melingkar di lenganku, tak berapa lama lagi sampai aku pergi, meninggalkan negara ini.
Rasa perih di sekujur tubuh masih menyelimutiku. Semalam aku kembali ke rumah itu, Minho hyung sudah disana, menyambutku dengan pukulannya. Ternyata Heemin sudah memberi tahu affair kami kepadanya, sekarang aku mengerti alasan kenapa dia mabuk-mabukan. Baguslah, setidaknya aku tidak perlu bersusah payah menceritakannya pada pria itu.
Seharusnya aku sudah masuk dari tadi, aku tahu yang kutunggu pasti tidak akan datang. Kusandang kembali ranselku dan berdiri
“Kim Myungsoo” panggil seseorang di belakangku. Aku menoleh untuk memastikan siapa yang memanggilku, heemin berdiri disana, menatapku
“kau datang?” tanyaku tak percaya
“eo..” jawabnya masih berdiri disana, terkejut melihat mukaku yang lebam dimana-mana “kenapa wajahmu?” tanyanya
Aku berjalan ke arahnya dan menghampirinya “ini? Hadiah perpisahan dari Minho hyung” jawabku santai
“mwo? Kau kesana?” tanyanya kaget “sakitkah” kecemasan menyelimuti wajahnya
“gwaenchana.. ini tidak seberapa, Minho hyun malah sampai patah tulang” candaku kemudian tertawa, wajah Heemin semakin pucat ketika aku mengatakannya “ah.. aniya.. dia baik-baik saja.. paling tidak seperti aku ini” ujarku, takut dia pingsan
“ikutlah denganku” ajakku, menggenggam tangannya. Dia menggelengkan kepalanya sekali dan melepaskan genggaman tanganku “mian.. aku tak tahu kalau jadinya bakal begini, maaf telah melibatkanmu myungsoo-ya, aku..”
“aku tak menunggu selama ini untuk mendengar kata maaf darimu, Hee” ujarku, memotongnya. Dia hanya menunduk semakin dalam ketika aku meletakkan tangan di kedua bahunya, “jadi kau memilihnya ya” kataku, sambil memandang melewati puncak kepalanya.
Dia menegang dan mundur dariku “entahlah, aku rasa lebih baik sendiri dulu untuk saat ini” ujarnya, memandangku sungguh-sungguh.
Pemberitahuan penerbangan berikutnyamenggema di penjuru ruangan
“pergilah” kata Heemin, mendorong bahuku pelan
“yakin kau tak ikut?” tanyaku setengah berharap
“eo..” jawabnya. Kutarik nafas pelan dan bersiap memunggunginya
“terima kasih, Kim Myungsoo, untuk semuanya, untuk cintamu padaku” ucapnya
Aku tersentak di tempat ku berdiri, kemudian berbalik memandangnya, air mata sudah menggenangi ke dua sisi matanya
“YA, uljimaa.. jangan buat perjalananku semakin sulit” ucapku sambil menghapus air matanya “setidaknya beri aku satu senyuman”
Dia tertawa menanggapiku, menghapus airmatanya dan kemudian tersenyum padaku “ have a nice flight” ucapnya
“hmm.. aku pergi” pamitku, memandangnya untuk yang terakhir kali, mencoba menenangkan hatiku yang akan kehilangannya. Kemudian melambai kepadanya.
Aku takkan melupakanmu, Lee Heemin, takkan pernah
***
Heemin Side
Kuputuskan untuk pindah ke Gangwon-do dan meninggalkan kehidupanku yang lama di Seoul. Surat gugatan ceraiku dikirim ketika aku baru sampai disini.
Kupandangi surat yang kini sedang ada di meja dihadapanku menunggu untuk ditandatangani.
Hari itu, ketika diperjalanan sebelum ke bandara aku sudah memikirkannya. Terlalu lancang untukku kalau harus memilih diantara mereka berdua.
Setelang kepergian Myungsoo, aku menelpon Minho untuk bertemu dan menceritakan semuanya dan menyelesaikan urusan kami. Kata cerai menjadi satu-satunya keputusan ketika itu.
Kububuhkan tanda tangan di atas namaku dan tersenyum pahit memandangnya, mungkin ini adalah satu-satunya jalan yang tepat untuk kami bertiga, semuanya harus dimulai dari aal lagi.
-THE END-
Posted on November 11, 2011, in Oneshoot, Yadong NC 17 and tagged Infinite, Myungsoo, NC 17, Oneshoot, Yadong. Bookmark the permalink. 75 Comments.






ceritaa nya kueren… Dramatis walau kurasa kurang hot
but not happy the end for they…
Squelindonk
daebakk chingu,keren banget!
kok cerai sih,kasian kan
jadi gak dapat satu pun
bikin sequelnya ya,penasaran sama hennim chingu
HOT! Nice ff:D
Sequel dong , ㅋㅋㅋㅋ
in cerita ny ngikutin flm korea 1xlepas ya, yg maen ny s shin yg d princes hours & cwex ny yg jd s gomiho. Gw tau flm in dvd ny jg ad. Ntar gw liat dlu judul ny. Hehe…
Keren euy..feel.a dpt..!
Cerai? Sedih banget. Hmm, coba kalo dr awal minho nya perhatian, mungkin bakal terjadi hal seperti itu. Hehe
Hot. Keren deh.
#nyesek >.< ceritanya drama banget, bahasanya keren
Ga ngeh cast.nya lee minho, ngebayanginnya choi minho heehee #plakk
Bikin lanjtanx d0nk.
Hwaaaa. . .
Keren. . . Like it. .
Tpi endng_y sdh bngt , buat skuel_y dunk. . . Ya. . Ya . . Ya . . XD
ini ffnya terinspirasi dari film Korea “The Naked Kitchen” yg maen Shin Min Ah ama Joo Ji hoon yaa ,,
waktu nonton filmnya agak bingung ama endingnya, ngegantung.
tapi pas baca ff ini endingnya jelas.
nice ff thor
ah akhirnya ada yg make cast nae namja
mantap L dr ht bgt tuh,buat heenimnya
thor, keren ceritanya, tp kykny harus ada sequelnya hahahaha
Lanjutin thor… Suka bgd sm crtnya.
Pkkny hrs lnjt. *maksa
Soalnya penasaran jg
Ceritanya terinspirasi dari film korea ”Naked Kitchen“ ya ??? Tapi keren-keren .. Kamu bisa memvisualisasikan lewat tulisan, bahasanya juga cukup bagus
semangat !!!
파이팅 !!!!
semalem emang udh baca ,,,tapi cuma setengah keburu ngantuk *ga ada yang nanya*
nice ff chingu…ceritanya aku suka tapi mian castnya rada kurang sreg sama aku (aku gak dapet feelnya) (^-^)
hmmm…
wahh crita.a dramatis bgt,
sekuel dunk…
Ceritanya bagus.. Bikin nyesek..
Gak tau juga mau nyalahin siapa.. Tiga-tiganya salah..
Tapi kasian minho.. Myungsoo juga.. Heemin juga..
Bikin sequelnya dong..
Buat heemin ama minho..
Terus, nc nya lumayan hot, kok..
Pengen sequelnya..
Bikin sequelnya dong, thor..
ThOooorrr……
Tnggung jwab bkin sequel……
Aq gak mw heemin jdi jnda yg tdk bhagia,, wkwkwkwkwk
Ayo ayo ayo……..
Kasian heemin,,, mlah gak dpt satupun
Aq ska bhsa nc nya,, gak vlgar
annyeong! ini pertama kalinya aku buka forum ini dan terkejut sedikit dengan ceritanya. cz aku masih di bawah umur #curcol
mengenai ff-nya, aku suka bgt..
ternyata seorang Kim Myungsoo bisa bersikap seperti itu sama yeoja yg pertama kali dia temui.
nice FF author!
Nice ff thor … Keren bgt .. Smpe terharu bacanya .. (⌣́_⌣̀) . Thor sequelnya dongggg … \(´▽`)/
ceritanya bagus banget dramatis akhirnya heemin ga milih sapa2………..
ada sekuelnya ga???
Ceritanya mirip banget sama film The Naked Kitchen hehe tp ada beberapa adegan yg beda
wooooo..nice story…
nice story..
buat sekuelnya dong chinguuu #maksa
q kra choi minho eh ternyata lee minho… bgus bgus
Wuaaa keren ceritanya eonn. Hot bgt wlopun cuma nc17
ya ampun myungsoo , nappeun juga ya ckck –” *digampar inspirit*
ceritanya keren thor ‘__’b
Apa2an ini,minta squel xD
DAEBAK!! bkin sequelny donk?
ya tuhan, aku beneran nagis baca FF ini. :’(
bikin sequelnya dong chingu.
Jujur gue suka banget cerita kayak gini, ini keren, ada typo dikit
lain kali bikin ff begini ya jangan cuma nunjukin adegan NC nya
dua jempol buat authornya
daebak bahasanya kerenn..
dramatis bgt ini FF
ini lee Minho ato choi minho??
minho g dapat scene yadongan kah?? yg sabar ya!!
tragis amat harus berpisah semua.a..
Aaaaah biases aku semua!!!!!! Senengnya ada nc nya myungsoo :’D
Sequel doooong!!! Biar gak nyesek ini sad ending..
aigoooo daebakk ffnya,, kasian minho oppa di khianati TT
hwaaaaa…. akhirnya nemu ff yg castnya L! ><" thor bikin yg hoya donk~ *kedip-kedip /plak
tragis ending?
why? T__T
Jadi pingin nangis
nice post bro
http://juditogel.wordpress.com
ARE YOU late oppa
Bagus thor..

Tpi, awalx kya terlalu ngikutin filmx jung ji hoon..
Bikin sequelx dong..
omo omo~ seru bgt. long shot tp gk ngebosenin.
padahal castnya bukan biasku. tp aku enjoy bacanya.
end yg bagus. ^^
Eh thor ini koq crita’a mirip ya ma film korea.
Aq lupa judul’a apa tp yg maen’a Shin Min Ah (My GF is Gumiho) ma cwo yg jd Pangeran Shin di Princess Hours (yg jd Myungsoo)??
Gmn neh thor penjelasan donk??
daebak thor sumpah dah *thumbsup
akhirnya nemu lagi ffnc yg castnya infinite
sequel bisa kali thor~
Qw suka….. Ceritanua g cuma oada ncnya…… Mantap…
Walw no hepending
The Naked Kitchen..?
keren cerita’a.. Gak cuma nampilin si2 yadong… Feelnya dpet bgt… Daebak lah..!!
Kerrrreeeeeeeenn,,
cerita.a bgusssss.,, kyak di drama2 gt,, hehe
nice FF , author,,
bagus chingu
buat sequal’a dong yaa
Gubraaaaak!
Crita nya rda gantung ;_;
Heenim sm spa jd?
Sndiri?
Yg psti ga sma Minho lg. +.+
Huaaaaahh.
Sequel ny dong *=*
si L sm heenim brengan gtu.
Happy ending.
Huaaaaaahahahaha.xD
Yaww~
asdfghz author siapa ini?????? ceritanya keren bgt woy ><
kasian bgt minho, tapi akhirannya nyesek bgt. emang gak bisa milikin keduanya…
kirain Heemin bakal milih L, soalnya cast utamanya kan dia wgwg. terharu bgt pas minho kasih kejutan anniversary nya itu. kerasa bgt dalem ama kenyesekkannya TT____TT
ceritanya drama bgt, keren bgt lah woy wgwg. terus berkarya ya thor, aku suka nih ama ff yang gak terlalu mentingin nc kek gini ^^/
buat yang nanya..
nih emang inspirasi nya dari naked kitchen.. soalnya aku suka banget ama filmnya..
tapi gak aku tiru semua dari situ juga..
rencananya emang mau dibikinin sekuel sih..
doain aja cepat selesainya.. Hwehehe
soalnya aku masih bingung mau lanjutin gimana..
any suggestion??
Thor sekuel dong.. kasian myungsoo ssendirian,gmn klo ditambahin cast cwe satu lagi.
neomu neomu neomu joa L..
keren! Daebak!
Buat squelnya dong, buat heemin hidup bahagia sama nae namja -minho- u,u
Ya ampun,,kasian banget ..
Cinta yg rumit!
Tpi FFnya lumayan bgus!
Kata”nya sopan & pntes untuk nc+17
ini keren bikin sequelnya dong author… ayolah please… ini daebak ceritanya… hehehhe…
terlalu panjang
ini terinspirasi dari film the naked kitchen ? haha
sad ending huhu
mengharukan sih apalagi kalau jadi minho sangat sangat sakit istrinya selingkuh sama teman sendiri apalagi selingkuh di rumahnya
good ff author ditunggu karya lainnya
Ya oloohhh.. O_O
Senengnya bca ff castnya ada lee minho..
hoaaa keren-keren~ sequel dong author ~ lanjutan nasib L sama heenim kekeke ^^
suka sama bahasanyaaa! Daebak! Ga terlalu ‘vulgar’ tp hot(?) haha
dan entah knp saya bayanginnya Choi Minho .__.v *plaaak
buat squelnya donk ><
Author, ceritanya ada yg bbrp terispirasi dari film yah? Aku lupa judulnya tp konfliknya mirip sama film yg di mainin sama sin min ah dan yg jd pangeran shin di princess hours.
Overall oke kok:D
Knp endingnya kyk giniiiiiiiii…aq pikir bakalan ttp ma lee min ho…sekuelnya dong chinguuuu
mengingatkan kepada naked kitchen nih, tapi keren ko ceritanya suka banget bagus!
suer yaak..
sakit bgt baca nya.. TT.TT hueeeeee
Kereen ~ tapi walaupun aku kurang ngerti ceritanya ~ kk
Mau gitu ya jadi Heemin :”(. Affair sama Myungsoo!! Mau mau mau… :3.
NICE FF!
Aigoo, kirain minho SHINee tau2nya pas liat cast lg lee minho -_____- daebaak ceritanya!!!! Sequel thor!!!
Koq mirip crta The Naked Kitchen’y JoJiHoon – ShinMinAh yaa???
Can You Write Everything In English?
Oppa cakep Lee Minho d ceraiin ? Kasih k gw, thor. ntar ku kawinin (#plak)
Gara2 selingkuh, buyar dh rmhtgga.
Daebak* sekuel ya…
Keren berharap dia balikan lagi ama minho.