My Lovable Nampyeon
1. Author : B2UTY_Parkieseob
2. Judul : My Lovable Nampyeon
3. Kategori: NC 21, Yadong, Oneshoot
4. Cast:
- Yoseob B2ST as himself
- Yoseob’s fangirl as Park Jisoon
- Baro B1A4 as Cha Sun Woo
AN: Annyeong haseyo yadongers!
Perkenalkan, saya author FFNC baru. Hahah, ini FF pertama yang saya buat dengan rate NC, dan langsung NC21!. Lah, karena ini FF NC pertama, jadi mian nya kalau gajelas + kurang hot! Hahahah.
Perhatian: Cerita ini mengandung unsur yadong, seksual, dan sejenisnya. Bagi yang berumur dibawah 21 tahun dilarang baca! Tapi ya semua itu terserah anda-anda sekalian sih, soalnya author sendiri sebenarnya juga masih dibawah 21y.o *plakk*. Dan sebelum anda membaca FF ini lebih baik anda sediakan air zam-zam 1 liter + baca surat alfatihal 7x, surat yasin 3x, dan ayat kursi 7x, atau sekalian hataman alQuran dulu dah sebelum baca. Wkwkwk #lebeeeehhh *author ditendang yadongers*
Yasudahlah, daripada kebanyakan babibu, langsung saja. Cekidot.
———————————————————————————————-
-Jisoon POV-
1 new message!
Kuusap kedua pipiku yang basah karena air mata dengan tangan. Aku meraih Ponsel yang ada diatas meja samping tempat tidurku dan mulai membaca sebuah pesan yang baru masuk.
Sender: HamBARO^^
“Aku penuhi undangan yang kau berikan padaku. Yeobo~ tadi kau terlihat cantik sekali, aku belum pernah melihatmu didandani secantik itu :’). Yeobo, Jisoonie, lupakanlah aku, berusahalah untuk membahagiakan dirimu sendiri dan hamtaro-mu yang baru -Yoseob hyung-. Aku tau dia baik. Aku yakin kau bisa bahagia dengannya. Annyeong!”
“Huaaaaaaa…. Baro-ah!” Ingin sekali aku berteriak sekencang-kencangnya setelah membaca pesan dari Cha SunWoo, namjachingu-ku, lebih tepatnya lagi ‘mantan’ namjachingu yang biasa kupanggil Baro. Semuanya telah berakhir. Dan aku juga tak mengerti kenapa bisa berakhir seperti ini. Ini bukan yang kuinginkan! Aku benci keadaan ini! Aku benci!
Pernikahan yang baru saja terjadi itu, Yang Yoseob , kedua orangtua kami, dan takdirlah yang membuat ini terjadi. Kalau boleh jujur, sebenarnya jika tidak karena dipaksa dan diancam, aku lebih memilih untuk menjadi anak yang paling durhaka daripada harus berpisah dengan Baro dan menikah dengan seseorang yang tak kucintai di usiaku yang masih terhitung sangat muda ini.
*flashback on*
“Jisoon-ah! Apa yang tak aku sukai dari Yang Yoseob? Bukankah dia baik? Dia tampan, kaya, dan terkenal!” ucap Appa-ku dengan suara lantang. Aku hanya terdiam dan mengalihkan pandanganku darinya. “Kau gadis yang beruntung jika kau menikah dengannya! Sudahlah Soonie… tinggalkan Sunwoo, dia tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan Yoseob. Arraseo?”
“APPA!” bentakku. “Aku tidak mencintai Yoseob oppa dan dia juga tidak mencintaiku! Lagipula aku masih 17 tahun! Aku masing ingin sekolah! Aku masih ingin bermimpi ini-itu! AKU TIDAK MAU MENIKAAAAAAHHHH!!!!”
“Kau tidak mau? Baiklah. Jangan panggil aku Appa lagi, jangan panggil istriku dengan Eomma lagi, pergi dari sini dan jangan pernah kembali.” katanya.
Aku bangkit dari dudukku. “oh, baiklah Park Jaejoong-ssi! Aku akan pergi saat ini juga!” kataku sambil bergegas menuju kamar.
“Nona Park Jisoon, tak ingatkah kau berapa milliar won utang yang dimiliki keluarga Cha kepadaku? Coba pikir dengan otakmu, bagaimana Sunwoo dan keluarga Cha nya bisa hidup kalau aku menagih utang mereka dan menyita semua harta yang mereka miliki?” ucap Appa lagi dengan nada tenang yang malah membuatku merasa semakin panas.
“JANGAN SENTUH KELUARGA CHA!” cetusku.
“Kenapa aku harus menuruti omonganmu? Bukankah kau tidak menuruti omonganku?” balasnya yang disertai dengan Evil-smile.
*flashback off*
-Jisoon POV end-
-Yoseob POV-
Ku buka pintu kamar yang dipasangi poster MBLAQ itu sedikit. Aku melihatnya didalam, masih menangis. Sebenarnya aku tidak tega pada yeoja yang baru menjadi Anae-ku 3 jam yang lalu itu, aku bisa mengerti perasaannya. Tapi…
-Yoseob POV end-
-Jisoon POV-
Yoseob menghampiriku dengan langkah tenangnya. Aku memandangnya sebentar, kemudian mengalihkan pandanganku keluar jendela.
“Berhentilah menangis. Kau pikir kau saja yang menyesali pernikahan ini?” ucapnya sinis. Aku tidak mengerti kenapa seorang Yang Yoseob, member BEAST yang selalu bersikap manis dan cute di acara-acara TV bisa berbicara sesinis itu. “Cepat kemasi barang-barangmu, mulai malam ini kau harus tinggal di apartemenku.” Lanjutnya yang kemudian membalikkan badan dan melangkah kearah pintu.
“Aku tidak mau tinggal berdua denganmu.” Jawabku yang membuatnya menghentikan langkahnya.
Dia menoleh kearahku, masih tanpa senyum dan berkata “Kau pikir aku mau? Sudahlah nona Jisoon, turuti saja kemauan orangtua kita.”
-Jisoon POV end-
***
Jisoon memandang bingung ke arah sebuah rumah yang ada di depannya. Ia menutup pintu mobil yang telah ia naiki bersama Yoseob tanpa mengalihkan pandangannya dari rumah tersebut.
“Kau bilang tadi kita akan tinggal di apartemenmu, tapi ken-“ belum selesai Jisoon bicara, Yoseob sudah memotongnya,
“Kalau kita tinggal di apartemen, para member BEAST pasti akan mengetahui semuanya. Kau ingat kan kalau pernikahan kita sangat dirahasiakan?”
“Bukannya Doojoon oppa datang ke acara pernikahan kita tadi?” Tanya Jisoon.
“Doojoon hyung memang tau, tapi yang lain? Hyunseung hyung, Junhyung Hyung, Gikwang, dan Dongwoon tidak tau!” Jawab Yoseob.
“Ayo masuk, ini hampir larut malam, aku lelah, dan besok pagi aku harus ke Jepang.” Ajaknya.
Jisoon mengangguk dan mereka berdua masuk kedalam rumah yang cukup besar untuk ditinggali dua orang itu.
Begitu sampai di dalam. Mereka langsung menuju suatu kamar yang terletak di lantai dua. Namun setelah di dalam kamar, mereka tak langsung istirahat.
-Yoseob POV-
“Mianhaeyo.” Kataku tiba-tiba. Aku merasa canggung karena tadi sempat berbicara dengan sinis kepadanya.
Jisoon menoleh kearahku, sesaat kami yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur saling berpandangan.
“Wae? Kenapa kau meminta maaf padaku, Yoseob-ssi?” ucapnya. Dari suaranya, bisa kuketahui betul kalau dia sangat tertekan.
“Karna… Karna aku… Karna aku menikahimu. Sekali lagi mianhaeyo, kumohon jangan membenciku, aku juga dipaksa.” Jelasku. Karena dia hanya terdiam, maka aku melanjutkannya. “Kau masih mencintai masa remajamu kan? Kau masih mencintai sekolahmu kan? Dan mungkin… Kau masih mencintai Baro-mu. Ya kan?”
-Yoseob POV end-
-Jisoon POV-
“Dan mungkin… Kau masih mencintai Baro-mu. Ya kan?”
Aku sedikir tersentak. Bagaimana dia tau panggilan ‘Baro’ku kepada Sunwoo? Padahal seluruh keluarga Park saja tidak ada yang tau akan panggilan itu. Kapan ia menyelidiki kehidupanku?
“Jisoonie, kau belum kehilangan semuanya. Pernikahan kita benar-benar dirahasiakan. Tak ada orang lain yang tau selain keluarga kita, Doojoon hyung, Cha Sunwoo, dan temanmu yang satunya itu, siapa namanya? Mian aku lupa.”
“No Minwoo.” Jawabku singkat.
“Ah ya, itu. Jisoonie, kau masih bisa menjalani hari-harimu seperti biasa, statusmu masih sebagai pelajar, yang perlu kau lakukan hanyalah merahasiakan pernikahan kita dengan baik. Mengerti?” Ucap Yoseob dengan nada yang sangat lembut tenang, berbeda sekali dengan cara bicaranya yang sinis tadi.
“Jinjja?”
-Jisoon POV end-
-Yoseob POV-
“Jinjja?” Tanyanya meminta kepastian. Ia tersenyum, ah… aku baru menyadari kalau senyumnya sangat manis. *aissshh! Author blushing*
Aku tersenyum dan mengangguk. “Jinjja. Soonie, jangan panggil aku ‘Yoseob-ssi’ lagi, itu terlalu resmi!. Panggil saja aku oppa atau apalah, asal jangan Yang Yoseob-ssi. Karna aku…” aku menggeser dudukku lebih dengannya, ku lingkarkan tangan kiriku di lehernya sambil mengelus lembut pipi kanannya dengan tangan kananku. “Aku ini nampyeon-mu.” Bisikku.
Tak ada reaksi darinya, aku pun mengecup bibir Jisoon dan entah mengapa itu membuat desiran darahku menjadi dua kali lebih cepat. Namun baru satu detik bibirku mendarat di bibirnya, dia berontak, ia melepaskan rangkulanku, dan sedikit menjauh dariku.
“Eh. Di sebelah ada kamar kosong kan? Boleh aku tidur disana?”
“Kenapa kau ingin tidur di kamar sebelah? Kenapa kau tak mau tidur disini denganku? Bukankah aku suamimu?” kataku.
“Ya, aku tau kau nampyeon-ku dan aku Anae-mu. Tapi bukankah kita menikah karna terpaksa? Bukankah kita sebenarnya tak saling mencintai?”
Aku tersentak mendengar perkataan Yeoja 17 tahun yang kini ada di depanku.
Ya, dia benar, aku baru menyadari aku berbuat hal yang tak sewajarnya kulakukan. Aku… Kenapa aku menciumnya? Bukankah aku sama sekali tidak mencintainya?
“Mi… mianhae Soonie. Kau boleh tidur di kamar sebelah.” Ucapku pada akhirnya.
***
Next morning….
“Yoboseyo…?” Ucapku sambil menempelkan Ponselku di telinga. Suaraku masih terdengar serak karena baru bangun dari tidurku.
“Yoseobie!” Kata seseorang dari seberang sana. Aku tidak membaca nama penelpon sebelum mengangkatnya tadi, jadi tidak tahu siapa yang menelponku sepagi ini.
“Nugu-ya?” Tanyaku lemas.
“Ah… Seobie! Kau ini bagaimana? ini Hyung-mu! Yoon Doojoon!”
“Mwo?!” Aku kaget sehingga refleks hilang rasa kantukku dan segera aku bangkit dari tidurku. “Mian Hyung! Nyawaku belum sepenuhnya menyatu dengan tubuhku! Aku baru bangun!”
“Ish! Alay lu Cup!” *Eh?*
“Heheh. What’s wrong hyung? Kenapa menelponku pagi-pagi?” tanyaku.
“Seobie, kemarin manager sudah bilang kan kalau hari ini kita ke Jepang?”
Aku beranjak dari tempat tidurku untuk membuka gorden yang menutupi jendela kamarku agar sinar matahari bisa masuk. “Oh… itu. Ne hyung. Tapi, bukankah kita berangkat jam 10? Ini masih jam berapa hyung…” aku melirik jam dinding di kamarku. “Jam 6…” kataku.
“Aniyo… aku tidak bermaksud untuk menyuruhmu bersiap-siap ke Jepang sekarang, aku hanya ingin memberitahumu kalau kita batal ke Jepang hari ini.” Jelas Doojoon hyung.
“Mwo? Eh, waeyo?” tanyaku.
“Molla… Tapi ini kabar baik untukmu kan Seobie?, kau bisa seharian dengan Anaemu. Hahah. Seobie… Seobie, kau ini, kau kan lebih muda dariku, kenapa kau bisa lebih dulu menikah?”
Aku tersenyum masam mendengar kata-kata Doojoon hyung. “Baiklah hyung, Gomawo. Salamkan ke semua member BEAST yang ada di dorm. Annyeong!” kataku.
“Ne, annyeong mr. Yang…”
Aku letakkan Ponselku diatas meja begitu saja setelah telepon dari Doojoon hyung terputus. Aku melangkah keluar. Dan begitu aku keluar dari kamar, terdengar suara dari dapur. Kulirik kamar yang ada di samping kamarku, pintunya terbuka. Ah, pasti yang di dapur itu Jisoon.
-Yoseob POV end-
-Jisoon POV-
“Uuh!” desahku kesal karena berkali-kali kutekan tombol ON tetapi belum juga berhasil menyalakan juicer yang ada di depanku.
“Annyeong haseyo.” Sapa seseorang dari arah belakangku. Aku memutar kepalaku kearahnya. Siapa lagi seseorang itu kalau bukan Yoseob oppa *‘oppa?’ ciyeeee*.
“Kau sedang apa Soonie?” Tanyanya.
“Aku ingin membuat jus jambu, tapi juicernya tak bisa menyala.” Jawabku.
Yoseob oppa mendekati ku, ia memperhatikan juicer yang telah kuisi dengan gula, air, dan potongan-potongan jambu itu. Ia tertawa kecil sambil meraih kabel juicer kemudian menancapkannya di stop kontak. Setelah itu ia menekan tombol ON dan, taraaaa, juicer yang semula kukira rusak itu seketika menyala.
“Berapa lamapun jusmu takkan jadi kalau kau belum menyambungkan juicernya dengan listrik.” Katanya.
Aku hanya terdiam, malu.
“Bagaimana kau bisa jadi Nyonya Yang yang baik kalau begini saja kau tidak bisa, Jisoonie.” Katanya lagi masih dengan tertawa kecil sambil mengacak-acak rambutku dengan tangan kirinya. Aku merasa ada yang aneh dengan kata-katanya, terutama pada bagian “Nyonya Yang”. Ah, apa dia benar-benar menganggapku sebagai Nyonya Yang? dia kan tidak mencintaiku.
“Soonie, hari ini kau sekolah?” Tanyanya. Aku mengangguk. “Berarti aku akan sendirian di rumah sampai kau pulang nanti.” Ucapnya dengan wajah kecewa.
“Eh? Oppa bilang kau mau ke Jepang?” Tanyaku bingung.
“Ani. Batal.”
“Wae?”
“Molla… Doojoon hyung juga tidak tau mengapa.”
Sesaat tak ada suara yang keluar dari mulut kami. Hingga akhirnya Yoseob memecah keheningan. “Kau sudah sarapan pagi ini?”
Aku menggeleng sambil menekan tombol OFF pada juicer dan menuangkan jus jambuku pada gelas kaca yang sudah kusiapkan sebelumnya. “Aku tidak akan sarapan pagi ini. Ini sudah jam 6 lebih sedang aku belum apa-apa, mandi pun juga belum. Aku akan terlambat kalau aku membuat sarapan dulu.” Ungkapku.
Ia membelalakkan matanya. “Andwae! Jangan berangkat sekolah sebelum kau sarapan! Sudah, cepat habiskan jusmu dan segera mandi sana. Biar aku yang membuatkan sarapan.”
“Tapi…”
“Sudah… cepat!”
Tidak lagi aku membantah. Aku langsung menghabiskan jus jambuku sekali minum, dan aku meletakkan gelasnya di meja setelah itu. Yoseob terus memperhatikanku. Entahlah, aku menjadi salah tingkah dibuatnya. Dia memang baik sekali, dia juga sangat perhatian, aaaah, kalau begini aku merasa seperti memiliki nampyeon, *lah? Emang lu punya nampyeon o.O* eh, ralat, maksudku aku merasa seperti memiliki oppa. Halaahhh, apa salah aku menganggapnya nampyeon? Dia kan memang nampyeonku… O.o Tapi… Haduh, aku ini kenapa? Kenapa aku jadi bingung sendiri sih?
“Soonie! Kenapa malah melamun? Kau ini seperti siput saja! Lambat sekali. Cepat mandi sana…” perintahnya sambil mendorongku keluar dapur.
-Jisoon POV end-
30 menit kemudian mereka berdua sudah berada di dapur kembali. Namun kali ini mereka sama-sama duduk diatas kursi makan untuk memulai sarapan mereka.
“Sarapanlah, mian, hanya sup jagung instan. Kuharap kau suka.” Ucap Yoseob pada Jisoon.
“Aku tau. Ini makanan kesukaanmu kan?” balas Jisoon sambil melahap sesendok sup pertamanya.
“Mwo? Kenapa kau bisa tau?”
“Oppa… kau ini selebriti… di sekolahku banyak fangirls-mu. Hampir setiap hari aku mendengar mereka membicarakanmu dan member BEAST lainnya. Jadi jangan heran kalau aku tau banyak tentang Yoseob’s facts.” Jelas Jisoon.
“Jinjja? Apa saja yang mereka bicarakan? Apa mereka bilang aku tampan? Suaraku indah? Wajahku cute?” Tanya Yoseob sambil menekan ujung dua jari telunjuknya ke kedua pipinya.
“Hahah. Aniyo…!! Mereka bilang hidungmu yang paling pesek diantara semua member BEAST.”
“Ck. Kau ini…” Ucap Yoseob yang diselingi dengan tertawa renyahnya. *krupuk dong o.O*
***
-Yoseob POV-
“Apa kau mau kuantar?” Tawarku. Kami menuruni tangga menuju lantai dasar. Kami tidak berjalan berdampingan, dia berjalan tepat di depanku.
“Gomawo, tapi tidak usah lah. Oppa istirahat saja. Aku tau Oppa lelah dengan schedules yang telah oppa kerjakan dengan BEAST.” Jawabnya yang sudah berhasil menuruni anak-anak tangga sambil membalikkan tubuhnya menghadapku.
Tiba-tiba entah mengapa aku merasa keseimbanganku goyah hingga aku terpeleset pada anak tangga yang terakhir. Akhirnya aku terjatuh dan menimpa tubuh Jisoon yang ikut jatuh karena terdorong olehku.
Dengan posisi yang seperti ini, wajahku menjadi sangat dekat dengan wajahnya. Aku bisa merasakan hembusan napasnya di wajahku.
Perasaan itu datang lagi, desiran darahku kembali mengalir dua kali lebih cepat dari biasanya. Ada apa dengan jantungku? Kenapa jantungku semangat sekali memompa darah dalam tubuhku? Apa ini karena aku berdekatan dengan gadis ini? Apa aku mulai mencintainya? Baru semalam aku tinggal seatap dengannya, apa mungkin perasaan itu bisa muncul secepat ini?
Tanpa kusadari, bibirku sudah menempel di bibirnya. Dia tak membalas, tapi juga tidak menolak, aku pun mulai menggigit-gigit bibir bawahnya dengan gigiku. Masih tak ada reaksi, aku mencoba membuka mulutnya dan mulai menjelajahi seluruh dinding mulutnya dengan lidahku.
“Emmhh…” desahnya saat aku menjilat dan meneguk saliva dalam mulutnya.
Aigoo… aku sangat menikmati bibirnya, tak bisa kubohongi diriku sendiri lagi kalau aku mencintai yeoja ini, aku mencintai Anaeku!
Ku lepas ciumanku sesaat, memberinya kesempatan untuk bernapas. Kemudian aku masukkan lidahku lagi kedalam mulutnya, namun tiba-tiba terdengar sebuah klarkson mobil dari luar rumah. Kami pun saling melepas ciuman kami dan segera bangkit dari posisi kami. Kulihat wajahnya bersemu merah. Lucu sekali.
“Oppa. Aku, aku berangkat. Aku sudah dijemput.”
“Hm? Dijemput? Siapa yang menjemputmu?” Tanyaku sambil menengok kearah mobil berwarna silver yang terlihat dari celah jendela ruang tamu.
“Nae HamBARO! Cha Sunwoo. Aku berangkat sekarang oppa! Annyeong!” katanya sambil berlari keluar.
Apa ini? Beberapa detik yang lalu ia berciuman denganku, dengan nampyeon-nya! Tapi sekarang? Dia sudah bersama namja lain. Itu membuat napasku sedikit sesak!. Aku jadi menyesal telah mengijinkannya untuk ters berhubungan dengan namja itu.
Eh? Tapi… Mwo? Menyasal? Wae? Aku sudah menyelidiki banyak hal tentang Jisoon sebelumnya dan aku mengerti kalau memang hanya Sunwoo satu-satunya namja yang ia cintai. Jadi, kenapa aku harus… ah… Baiklah. Kali ini harus kuakui bahwa mencemburuinya! Harus kuakui bahwa aku jatuh hati pada PARK JISOON!!
-Yoseob POV end-
-Jisoon POV-
“Gwencanayo?” Tanya Baro setelah aku masuk dan menutup pintu mobilnya.
“Eh? En.. g-gwencana. Heheh.” Jawabku tergagap. Aku masih gugup, detak jantungku belum normal sampai sekarang. Yang tadi itu ciuman macam apa? Panas sekali. Aku belum pernah melakukan ciuman yang seperti itu dengan Baro.
-Jisoon POV end-
***
-Sunwoo POV-
Aku terus memperhatikan seorang yeoja yang sedang membereskan buku-bukunya di atas meja. Banyak hal yang masih belum berubah darinya. Mulai dari kebiasaan, cara dia bicara, bahkan panggilan “HamBARO”nya padaku juga belum berubah. Hanya saja, kini bukan hanya aku satu-satunya namja yang memilikinya. Kini aku hanyalah pemilik hatinya, sedang seseorang yang memilikinya secara penuh dan bahkan secara resmi bukan aku, melainkan namja lain, Yoseob hyung.
“Aku masih mencintaimu Baro, kumohon jangan paksa aku mencintai Yoseob oppa. Aku tidak mencintainya, dan dia tidak mencintaiku! Lagipula Yoseob oppa juga tidak melarangku untuk berhubungan denganmu.” ucapnya semalam melalui telepon.
Aku sendiri bingung dengan apa yang harus kulakukan setelah ini. Apalagi mengingat kejadian –yang sebenarnya tak ingin kulihat- tadi pagi, membuatku semakin bingung. Aku memang masih mencintainya, aku juga masih mengharapkannya, tapi di sisi lain aku berpikir ini salah! Harusnya aku tidak boleh mengganggu hidupnya lagi. Dia sudah memiliki nampyeon! Aku akan berdosa kalau aku terus-terusan mengharapkannya. Arghh… Confusing…
“Baro-ah… ” panggilnya menyadarkan lamunanku.
“Ah, ne? Sudah selesai? Ayo kita pulang.” Kataku sambil menarik tangan kirinya.
“Mwo? Pulang? Andwae… aku masih ingin jalan-jalan denganmu nae Hambaro…”
-Sunwoo POV end-
***
-Yoseob POV-
Lagi-lagi aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10pm. Tak kuhiraukan televisi yang kunyalakan sejak menjelang petang tadi. Aku tak bisa fokus, pikiranku melayang kemana-mana.
Park Jisoon… dimana kau sekarang ? kenapa kau belum pulang?
Ku raih Ponsel yang tergeletak di sampingku, untuk yang ke-lima belas kalinya aku mencoba mengbubungi nomer ponsel Jisoon.
“Masih tidak aktif.” Ungkapku kesal.
Kulemparkan poselku pada sofa yang saat ini kududuki, namun beberapa saat kemudian kuputuskan untuk mengirimi Jisoon pesan singkat, akhirnya, kuraih kembali ponsel yang tadi kulempar.
To: Park Jisoon
Jisoon-ah… Soonie. Kau ada dimana? Ini sudah malam Soonie… cepatlah pulang.
Sent!
Kurebahkan kepalaku pada sandaran sofa, dan tanpa kusadari mataku mulai terpejam, aku terjatuh dalam tidurku.
1 hour later
Cklek!
Aku tersadar akibat suara pintu yang dibuka.
“Jisoonie!” Seruku begitu membuka mata.
Aigooo… aku tertidur?
Aku langsung bergegas menuju pintu depan dan melihatnya menutup pintu.
“Darimana saja kau? Ha?” tanyaku sedikit membentak.
“Dari main.” Jawabnya singkat. “Dengan Baro.” Tambahnya yang kemudian dengan santai menaiki tangga menuju lantai atas tanpa merasa bersalah sedikitpun.
“Ya! Kenapa ponselmu tidak aktif? Kau tau? Aku mencemaskanmu!”
-Yoseob POV end-
-Jisoon POV-
“Aku mencemaskanmu!” ucapnya.
Mendadak kuhentikan langkahku. Sejenak darah dalam tubuhku terasa berhenti. Benarkah itu? Dia mencemaskanku? Ku putar tubuhku menghadap kearahnya.
“Mwo?” kataku.
“Wae? Salah? Aku nampyeon-mu! Salah kalau aku mencemaskanmu? Kau tidak boleh mengulangi ini lagi! Nampyeon mana yang tidak cemas kalau anae-nya baru pulang pada waktu semalam ini?”
Mendengar kata-katanya, membuatku tak bisa bekata apa-apa selain “Mian. Mianhaeyo oppa.”. setelah itu aku kembali menaiki tangga menuju kamarku. Kulirik dia yang sedang ada dibawah tangga, dia masih terus memperhatikanku dengan wajah geram.
-Jisoon POV end-
Yoseob melihat Jisoon masuk dan menutup pintu kamarnya begitu saja dari bawah. Ia mendengus kesal. “Dia masih terlalu muda untuk menjadi anae-ku. Aigo… bagaimana caranya agar dia bisa bersikap dewasa? Ini salahku, harusnya aku bisa membujuknya menjadi wanita dewasa, bukannya malah membiarkannya bersenang-senang sendiri dalam dunia teenagernya.” ucapnya lirih.
Keesokan malamnya…
-Yoseob POV-
Aku menghela napas berat. Lagi-lagi ia pulang malam. Awalnya aku berniat untuk tidak lagi menghiraukannya, aku berniat untuk tetap diam saja di depan televisi meski kudengar pintu depan dibuka, namun niat itu kuurungkan ketika telingaku menangkap suara pintu depan yang dibuka dan ditutup kembali dengan kasar, selain itu suara kaki-kaki Jisoon yang sedang berlari-lari juga menjadi alasan mengapa aku mengurungkan niatku itu.
Aku berlari menuju asal suara itu.
“Park Jisoon!” panggilku. Dia yang baru akan menaiki tangga menghentikan langkahnya, namun tak menoleh kearahku.
“Kau pulang malam lagi?” kataku. Dia tetap tak menoleh. Merasa tak di dengar, aku pun memperbesar suaraku.
“HEY! Jisoon! Kenapa kau pulang semalam ini lagi!? Bukankah semalam aku sudah melarangmu mengulangi hal ini?”
“PARK JISOOOOOOONNN!!!!” Aku mulai emosi, kuhampiri dia dan dengan kasar aku membalikan tubuhnya agar berhadapan denganku. Ingin aku membentaknya lebih keras lagi, namun aku tidak tega, karna setelah ia berhadapan denganku, aku bisa melihat dia menangis.
“Jisoonie, kau?”
“Oppaaaa….” ucapnya lirih sambil melingkarkan kedua tangannya pada tubuhku.
-Yoseob POV end-
-Jisoon POV-
“Jisoonie… kau kenapa?” tanyanya lembut.
Aku memeluknya lebih erat, aku ingin mendapat ketenangan darinya karena aku tidak tau harus bagaimana lagi caranya agar hatiku bisa kembali tenang. Ia membalas pelukanku, tapi itu hanya beberapa detik karna kemudian ia melepaskan pelukan kami dan menarik tanganku ke sofa di ruang televisi yang tak jauh dari tempat kami berdiri sebelumnya.
“Kau kenapa?” tanyanya lagi setelah kami duduk di sofa tersebut.
*flash back*
-Sunwoo POV-
“Soonie ayo kita pulang.” Kataku, kutarik tangannya yang sedang asik memetiki bunga-bunga kecil disekitar bangku panjang yang kami duduki. Jisoon diam saja, sama sekali tak meresponsku.
Sebenarnya aku masih belum ingin pulang, aku masih ingin bersamanya, tapi mengingatnya yang sudah memiliki nampyeon, aku jadi merasa tidak enak dan ingin cepat-cepat membawanya kembali pulang ke rumah nampyeonnya itu.
“Jisoonie… ini sudah malam.” Kataku lagi.
“Aku tidak mau pulang.” Katanya.
“Jangan seperti itu, kau harus bisa bersikap dewasa, kau sudah punya nampyeon.”
Dia menatapku. “Baro-ah…! kenapa setiap saat kau selalu membahas nampyeon, nampyeon, dan nampyeon lagi?! Aku bosan mendengarnya!”
“Soonie! Aku ini juga namja! Jadi aku juga berpikir bagaimana kalau aku yang menjadi nampyeon-mu itu! Soonie… Kalau aku jadi dia tentu aku akan marah sekali! Kau sudah menjadi anae-nya, tapi kau masih saja keluar malam dengan namja lain. Kau pikir seperti itu kah tipikal yeoja yang baik? Ha?”
“Baro-ah… Berapa kali lagi aku harus mengatakan, nampyeon-ku tidak mencintaiku! Aku juga tidak mencintainya! Kami tidak saling mencintai!”
“Mwooooooo? Tidak saling mencintai? Untuk apa kemarin pagi kalian berciuman kalau kalian tidak saling mencintai?” ungkapku, mengeluarkan isi pikiran yang menggangguku sejak kemarin pagi.
Wajah Jisoon menegang.“Kau tahu itu?”
“Bagaimana aku bisa tidak tahu?! Bukankah ada jendela disana?! Aku melihatnya dengan jelas! Dan aku tahu kalian sangat menikmatinya! Kau… Arghhh!! Jisoonie…!! Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku selalu percaya padamu? Kenapa juga aku harus memiliki hubungan dengan anae dari Yang Yoseob?”
“Baro-ah…”
“Ish! Cukup. Lebih baik hubungan ini kita akhiri sampai disini saja.”
“Baro-ah… Andwaeyo…!” Jisoon yang pipinya mulai terbasahi air mata.
“Wae? Nampyeonmu lebih tampan! Lebih kaya! Dia member BEAST yang tenar! Dan dia terkenal! Sedangkan aku? Aku hanya namja 18 tahun yang direbut yeojachingu-nya oleh namja lain yang jauh lebih baik darinya! Pulanglah kau ke rumah nampyeon-mu! Jangan kau mencintai namja sepertiku Soonie! Hajima!”
“Wae? Nampyeonmu lebih tampan! Lebih kaya! Dia member BEAST yang tenar! Dan dia terkenal! Sedangkan aku? Aku hanya namja 18 tahun yang direbut yeojachingu-nya oleh namja lain yang jauh lebih baik darinya! Pulanglah kau ke rumah nampyeon-mu! Jangan kau mencintai namja sepertiku Soonie! Hajima!”
“Baro-ah, aku mencintaimu.”
“So? Kalau aku bilang aku yang tidak mencintaimu lagi bagaimana?” ucapku sambil menahan sakit di dadaku. Berkata ‘aku tidak mencintai Jisoon lagi’ adalah kebohongan yang paling menyakitkan bagiku.
-Sunwoo POV end-
-Jisoon POV-
Aku bangkit dan menyeka air mataku sendiri. “Oh, baiklah. Hoksi geu nal saenggangna uri cheoeum mannan nal, ajikdo nan saenggangna nigahaetdeon yaksogi. naman akkyeojugo naman jikigo, naman saranghandago. nan mideosseo neoui geojitmal. nan mideotdan mallya. Aku pulang! Annyeong!”
Kuayunkan kedua kakiku, berlari menjauhi namja yang pertama kali membuat aku merasakan love-sick. Aku terus berlari sambil mengangis, tak kuhiraukan suara Sunwoo yang meminta maaf padaku dari tempat kami berdua tadi. Aku sudah terlalu sakit untuk menjawab permintaan maafnya itu.
*flashback end*
Chu~
Kurasakan bibir lembutnya menempel di keningku. Dipeluknya aku setelah ia mendengar semua ceritaku. Perlahan, rasa sakit atas perlakuan Sunwoo terhapuskan oleh perlakuan lembut Yang Yoseob kepadaku. Hangat, hanya itu yang kurasakan sekarang.
“Jangan menangis lagi… dia mencintaimu kok. Hanya saja dia hanya ingin yang terbaik untukmu, meski itu sakit untuknya. Jangan tanyakan darimana aku tau, karena aku juga seorang namja. ” ucapnya pelan tepat di depan telingaku.
“Tapi aku juga merasakan sakit, oppa…”
“Tenanglah. Disini masih ada nampyeonmu…” Ia menempelkan pipi kirinya di bahuku, membuatku merasakan desah napasnya pada leher kananku. Bibirnya menghisap bagian bawah telingaku, meninggalkan sebuah kissmark yang berwarna kemerahan.
“Saranghae…” bisiknya pelan. Palaaaann sekali, namun masih bisa kudengar karena posisi bibirnya yang masih sangat dekat dengan telingaku.
“Eh?”
Ia lepaskan pelukannya dan hanya memegang kedua bahuku. Ia kemudian tersenyum padaku dan berkata, “Kau mendengarnya eo?”
“M-mungkin. Tapi kurasa aku salah dengar.” Balasku.
Dia tertawa kecil sambil mengacak-acak rambutku. “Sudah malam chagi, berangkatlah tidur sekarang. Dan ingat, jangan menangis lagi!” Katanya.
Mwo? Dia panggil aku apa tadi? Chagi? Isshh… mungkin aku terlalu lelah, aku tidak terlalu yakin dengan pendengaranku.
***
-Jisoon POV-
“Kyaaa!! Aku kesiangaaaann!!!” Teriakku sambil cepat-cepat bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Sempat kulirik jam dinding tadi, menunjukkan pukul 06.55am. ah, kepalaku terasa pusing sekali.
-Jisoon POV end-
***
-Yoseob POV-
“Jisoon-ah!” panggilku begitu melihat Jisoon menuruni tangga dengan terburu-buru. “Kau mau kemana?” tanyaku.
Dangan masih terburu-buru, ia menjawab “Tentu saja aku mau ke sekolah.”
Aku mengerutkan kening. Kulihat ia mulai memasang kaos kaki beserta sepatunya, Ia hampir siap berangkat dengan seragam sekolahnya, tapi, kurasa aku harus mengingatkannya tentang sesuatu yang sepertinya ia lupakan.
“Sunday after Saturday!” ucapku santai. Mendadak ia menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh kearahku.
“Kemarin hari sabtu, Park Jisoon.” Ucapku lagi.
Plak. Ia menepuk jidatnya sendiri. Kuhampiri dia dan menyeretnya kearah dapur.
Begitu sampai di dapur, kutunjukkan padanya beberapa bahan-bahan mentah seperti terigu, telur, gula, kakao, dan lain-lain yang kutemui di atas meja makan begitu aku masuk ke dapur beberapa jam yang lalu.
“Kau yang membelinya?” tanyaku pada Jisoon.
Ia menggeleng cepat. ”Aniyo…”
“Lalu siapa?”
“Eh, oppa, coba lihat!” serunya menunjuk secarik kertas yang ada diantara bahan-bahan mentah itu. Ia kemudian mengambil kertas itu dan membawanya ke dekatku.
“Buatkan eomma kue coklat!”
“Eomma-mu?” kataku.
“Tidak mungkin. Eomma-ku tidak suka makanan yang terlalu manis seperti kue coklat.” Jawabnya
“Eomma-ku juga tidak mungkin. Ia bisa membuat sendiri, untuk apa dia meminta kita yang membuatnya?”
“jadi?”
“Lagipula apa kau bisa membuat kue coklat?”
Lagi-lagi ia menggeleng. “Ani… aku tidak bisa. Tapi, apa belajar membuat kue itu hal yang buruk?” katanya.
Kami saling bertemu pandang dan tersenyum. “Cepat ganti pakaianmu, biar aku cari resepnya di internet.” Ucapku.
-Yoseob POV end-
***
-Jisoon POV-
“Apa ini buruk?” Tanyaku. Sambil memandang kue coklat buatan kami yang baru saja jadi.
Bukannya langsung menjawab pertanyaanku, dia malah mencium pipiku sekilas. “Tidak. Ini sangat bagus.” Katanya.
Aku memandang wajah tampannya, ia masih terus memperhatikan kue kami. Dalam hati, sedikit ku tak percaya bahwa aku memiliki nampyeon yang terkenal seperti Yang Yoseob.
“Oppa, hug me.” Pintaku secara tak sadar.
“Mwo?” ucapnya dengan wajah sedikit bingung.
Aku tak mengucapkan apa-apa, aku masih gugup karena telah mengucapkan sesuatu yang mempermalukan diriku sendiri. Tapi ternyata dia tersenyum dan langsung mengabulkan permintaanku tadi, dia memelukku.
“Kenapa tiba-tiba memintaku memelukmu, h?” tanyanya.
Aku tidak menjawab, aku hanya memejamkan mataku menikmati pelukan hangatnya. Dia pasti bisa merasakan detak jantungku yang semakin cepat di dadanya. Aigoo… mungkin kali ini aku telah menemukan Baro yang lain. Aku merasa nyaman dengannya, senyaman saat aku bersama Baro. Kuharap ucapan ‘saranghae’ yang ia ucapkan semalam bukanlah sebuah ucapan yang salah kudengar. Karna kurasa aku juga mulai mencintainya. Aku takut ia tidak mencintaiku. Aku takut rasaku hanya bertepuk sebelah tangan.
“Oppa, saranghae…” ucapku dalam hati.
-Jisoon POV end-
***
Hari yang terang sudah tergeser oleh gelapnya malam. Rumah terasa sepi, hanya suara televisi yang Yoseob tonton dan suara aliran air dari kamar mandi di kamar Jisoon yang terdengar. Eomma Yoseob baru saja pulang dari rumah mereka, mengambil kue coklat yang ia minta.
“Bukannya eomma bisa membuatnya sendiri?” Tanya Yosoeb pada eomma nya setelah ia tau bahwa eommanya itu lah yang meminta ia dan Jisoon membuat kue.
“Wae? Eomma juga ingin menikmati kue buatan anak dan menantu eomma ini, Seobie.” Jawab eommanya.
***
-Yoseob POV-
“OPPAAAAAAAAAAAA……!!!!!!!!” Teriak Jisoon begitu listrik padam secara tiba-tiba. Aku langsung berlari menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Keadaan begitu gelap, aku tak bisa melihat apa-apa, bahkan tangga yang sedang kunaiki pun tak bisa kulihat. Takut jatuh? Tentu saja! Tapi rasa takut itu terkalahkan oleh rasa khawatirku pada Jisoon.
Sebelum masuk ke kamarnya, terlebih dahulu aku masuk ke kamarku, mencari lampu senter sebagai penerangan, setelah itu, tanpa pikir panjang lagi aku langsung menemuinya.
“Jisoonie, gwencanayo?” ucapku. Kupeluk erat ia yang sedang duduk di depan cermin sambil memegang sebuah sisir. Ia hanya mengenakan piyama mandi. Rambutnya basah dan tercium aroma sabun dari tubuhnya. Pasti ia barusaja mandi.
“Oppa! Kenapa tiba-tiba mati lampu?”
“Mollayo… sudahlah kau ikut aku saja.” Kataku sambil menarik tangannya.
“Kemana?”
“Ke kamarku.”
“Eh?”
“Eh?”
“Sudahlah ikut saja.”
Kurangkul ia dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku memegang lampu senter untuk menerangi jalan.
Kututup pintu kamarku setelah kami masuk di dalamnya.
“Tunggu sebentar.” Ucapku sambil mencoba meraih lampu alternative yang terletak diatas lemari pakaianku. “Ini bisa jadi penerangan kita untuk sementara.” Kataku. Kunyalakan dan kuletakkan lampu itu diatas meja, sedang lampu senter yang sedari tadi kepegang kumatikan.
“Kalau kau lelah tidur saja. Besok kau sekolah, lagi pula ini sudah hampir jam 10 malam.”
“disini?” tanya Jisoon.
“Tentu saja! Apa kau mau tidur di kamarmu yang gelap gulita itu?”
Tanpa bicara sepatah kata lagi, ia pun naik keatas tempat tidurku dan mulai menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya, namun ia tak langsung berbaring melainkan melanjutkan aktifitas menyisir rambutnya. Dasar yeoja!
“Bagaimana aku bisa tidur tanpa pengahangat ruangan? Ini dingin sekali.” Ucapnya.
Mendengar ucapannya itu, aku langsung mengikutinya memasukkan badanku dalam balutan selimut dan kemudian melingkarkan kedua tanganku pada tubuhnya yang sudah berposisi terbaring itu. “apa ini bisa menghangatkanmu?” tanyaku.
Ia memutar badannya menghadap kearahku sehingga wajah kami berdekatan. Tanpa kuduga sebelumnya, ia mencium bibirku sekilas, kemudian memelukku. aku jadi merasa sedikit tergoda, kubalas ciuman kilatnya tadi dengan ciuman yang lebih lembut dan penuh perasaan. *aish.*
Kusedot bibir bawahnya dengan lembut, ia membalas dengan menggigit-gigit kecil bibir atasku. Setengah menit kami melakukan itu hingga akhirnya kutarik, kulumat, dan kumainkan lidahnya di dalam mulutku. Tanganku tak bisa diam, kuraba-raba dua tonjolan di dadanya, kuremas pelan hingga dia mendesah diantara ciuman kami.
Merasa cukup dengan bibir, aku beralih ke lehernya. Beberapa kissmark kubuat disana.
“ahh oppaa ah jangan begitu, geli, ahh…”
Tak ku hiraukan kata-katanya, terus kuciumi dan kujilati lehernya mulai dari bawah telinga kiri sampai telinga bawah tanpa melewatkan se-inchi pun. Ku buka piyama mandi yang ia kenakan, sehingga tubuhnya kini hanya tertutupi bra dan CD saja. Ia tak berontak sama sekali. Kubuka pengait bra nya sekalian sambil melumat bibirnya lagi.
Setelah terbuka bra yang ia kenakan, kugeser bibirku dari bibirnya ke nipplenya. Awalnya hanya kujilat-jilat saja, namun lama lama aku jadi gemas dan mulai menggigit serta menghisapnya dengan kuat.
“Oppa~ awh. Ssshhh…”
“Wae yeobo? Ini nikmat kan? H?” ucapku yang tak dihiraukan olehnya, ia terus mendesah-desah saat kuserang nipple kirinya dengan bibirku sementara nipple kanannya oleh tanganku.
“Teruslah mendesah. Jangan ditahan.” Ucapku lagi.
“Ah… shhh, oppa, apa yang akan kau lakukan?” tanya Jisoon saat kubuka CD sebagai pertahan terakhir(?)nya. Kini ia sudah full naked di depanku. Dengan penerangan lampu alternative yang ada, aku bisa melihat dengan jelas tubuh naked nya mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Aku menelan ludah. Baru kali ini aku melihat tubuh naked seorang yeoja secara langsung. Biasanya aku hanya melihat dari gambar-gambar atau video-video yadong yang kutonton besama para hyung dan namdongsaengku di BEAST. Aku tak bisa mengelak lagi, celana dalamku terasa semakin sesak.
Ku pegang paha yeoja yang sudah menjadi anae-ku ini, kulebarkan dan kesentuh daerah paling sensitive yang ada di pangkal pahanya itu. Perlahan tapi pasti(?), kumasukkan jari telunjukku kedalam ms.V nya.
“Aw! Oppa.. ah. Ahh. Sakit oppaaa… ahhh…”
“Apa begitu sakit? Bukankah ini nikmat, eoh?” kataku sambil mengeluar-masukkan jari telunjuk yang sudah ditambah dengan jari tengah itu dari ms.V nya. Ibu jariku tidak pasif, ia menggosok-gosok clitoris Jisoon sambil menekan-nekannya lembut.
“Ahh… Yoseob-ssi… ahhh… ppali… fassssterrr… ahh”
Rasa hangat serta basah yang kurasakan pada jari-jariku membuatku tak ingin menghentikannya. Ditambah lagi desahan-desahan yang muncul dari bibirnya, terdengar sekseh hingga membuatku benar-benar terangsang.
“ppali oppa… ahh…”
Kuturuti permintaannya untuk mempercepat gerakan tangannku. Ia semakin mendesah dan meracau tidak jelas. Ms.V nya berkedut, akupun semakin cepat lagi sambil sesekali kubengkokkan kedua jariku saat menariknya keluar.
“Oppa… aku mau awh, aku mau keluarrr…”
“Tidak apa. keluarkan saja.” Balasku yang masih sibuk melakukan foreplayku.
“Ahhhhhh…” desahnya panjang yang disertai dengan cairan kental yang mengalir dari ms.V nya. Kukeluarkan jari-jariku yang penuh dengan cairannya, kujilati sampai bersih dan kemudian berganti ms.V nya yang kujilati. Rasanya tidak buruk, aromanya sangat menggoda dan merangsang. Aku mencoba memasukkan lidahku kedalam lubangnya itu.
“Oppa… jangan mulai lagi, ini tidak adil! Aku sudah mencapai klimaks pertamaku, sedang kau masih berpakaian lengkap!”
Aku bangkit dan tersenyum padanya. Aku melihat diriku sendiri. Ya, ia benar, ini tidak adil. Aku pun membuka seluruh pakaianku beserta CD ku hingga juniorku terekspos di depannya. Diameternya tidak besar, tapi juga tidak kecil dan lumayan panjang.
Sebenarnya aku malu menunjukkan juniorku di depan Jisoon, tapi aku berpikir mungkin aku akan lebih malu lagi kalau dia bukan anae-ku. Lagi pula dia juga naked dan aku sudah mempermainkan daerah-daerah sensitivenya tadi.
Kuarahkan tangannya pada juniorku yang sudah menegang dari tadi. “Remaslah, yang kuat.” Kataku. Dengan sedikit malu-malu, ia meremas juniorku.
“Ow, arghhhh ahhh…” kini ganti aku yang mendesah-desah karena perlakuannya. Ia kini tidak seperti gadis yang polos karena ia mulai meremas kuat juniorku sambil mengocok, mengurutnya dari pangkal hingga ke ujung sambil tangan yang satunya mempermainkan twinsballku.
“Owhhh chagiiiiii….. ahhh… ahh.. lanjutkan chagiii ahh… kau pintar sekali, apa kau pernah melakukan ini pada Cha Sunwoo?” tanyaku.
“Aniyo…!! aku tak pernah macam-macam dengan putra dari keluarga Cha itu! Aku hanya meniru adegan di video yadong yang pernah kutonton sekilas beberapa waktu yang lalu!.” Jawabnya.
“Ahssss… ah.. kau pernah menonton video yadong? Ahh… kenapa tidak mengajakku? *-___-* Ahh chagiii fassterrr…”
Juniorku semakin keras dan membesar. Aku sangat merasa nikmat dengan hand-service nya, tapi sepertinya aku juga butuh mouth sex.
Kuarahkan juniorku yang mengacung tegak itu kearah mulutnya. “kulum chagi.” Pintaku
“MWO?!” ucapnya kaget.
“Ayolah…” paksaku dengan senyuman evil.
Dengan ekspresi wajah yang ‘i-ngin co-ba co-ba’ ia mengulum juniorku yang hanya bisa masuk setengah itu, sedang yang setengahnya lagi hanya ia jilat-jilat seperti anak kecil yang menjilati es krim.
“Oh my God… Park Jisoonnnn… ahhhh…. kau.. ahssss, shhh.. kau membuatku ahhh gila Park Jisoonn.. ah ahhhh…!!” racauku.
Ia tersenyum geli mendengar racauanku. Rupanya itu membuatnya semakin bernafsu untuk mempermainkan junior beserta twinsballku dengan mulut dan kedua tangannya. Rasanya ada sesuatu yang ingin meledak dari juniorku, kugoyang-goyangkan juniorku itu kesana kemari hingga membuat Jisoon sedikit bingung dengan tingkahku. Tapi rupanya ia sudah mengerti, terbukti dengan semakin cepatnya ia mengulum juniorku dengan bibirnya. Aku tak bisa menahan lagi, kukeluarkan cairan spermaku didalam mulutnya. “Emh!” serunya kaget ketika spermku menyemprot-nyemprot ruang di mulutnya.
“Ahhhhh, chagiiii gomawo…” ucapku sambil mengeluarkan juniorku dari mulutnya. Ia tak menjawab, atau lebih tepatnya lagi tak bisa menjawab karena bibirnya terkatup menahan spermaku agar tidak keluar. Sepertinya ia masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan dengan spermaku itu.
Aku tertawa kecil melihatnya. “telan saja chagi, tidak apa-apa.” Kataku.
Ia menggeleng cepat.
“kenapa? Umm? baiklah, sini kalau kau tidak mau.” Ucapku yang kemudian menempelkan bibirku pada bibirnya, menghisap setengah dari sperma yang kekeluarkan di mulutnya tadi, berpikir bahwa ia akan berubah pikiran dan mau menelan dari sisanya.
“tinggal setengah, sudah telan saja…” kataku lagi.
“huek. Rasanya aneh.” Katanya begitu selasai menelan cairan spermaku.
Lagi-lagi aku tertawa kecil. Ku serang lagi bibirnya untuk membersihkan sisa-sisa sperma yang mungkin masih tersisa di dalam mulutnya.
Kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya, sebisa mungkin aku jelajahi seluruh dinding pada rongga mulutnya. Sambil bertukar saliva, tangan kami mulai bergerilya, tanganku meremas breast-nya, sedang tangannya meremas juniorku, membuat ciuman kami menjadi sangat bergairah.
Tanpa menunggu begitu lama, juniorku kembali menegak dan mengeras. Yang kuinginkan sekarang adalalah memasukkan juniorku itu kedalam ms.v nya, tapi, apa dia mau melakukannya denganku?
“Jisoon-ah…” panggilku di samping telinganya. “Apa kau mencintaiku? Apa kau mau melakukannya denganku?” tanyaku sambil memasukkan jari telunjukku pada ms.v Jisoon untuk yang kedua kalinya.
Ia tak menjawab pertanyaanku, ia hanya mendesah menikmati sensasi di ms.v nya.
“oppaaa…. ahhh.. arghhhh.. ah Yoseobie… ahhh”
“oppaaa…. ahhh.. arghhhh.. ah Yoseobie… ahhh”
Aku tau dia sangat horny, jadi aku berpikir mungkin desahannya itu adalah suatu jawaban “iya”.
Kutempelkan ujung juniorku ke permukaan ms.V jisoon, namun tak segera kumasukkan, melainkan menggesek-gesekkannya terlebih dahulu pada bibir ms.v dan clitorisnya.
“kajja oppa…” pintanya dengan suara parau akibat rangsangan yang kuberikan sejak tadi.
Tanpa pikir panjang lagi, ku lebarkan paha Jisoon dan kulesakkan juniorku kedalam ms.v nya dalam satu
hentakan.
“Aigoooo!!!! Sakit oppaaaa!!!” teriaknya.
“Mian yeobo… kalau pelas-pelan justru akan semakin sakit.” ucapku sambil mencium kening dan meremas dadanya kembali untuk mengurangi rasa sakitnya. Matanya berair. Dia masih virgin, pasti rasanya sakit sekali. Tapi aku tau dia akan segera merasakan nikmatnya, karena aku takkan melakukan ini padanya kalau hanya aku yang menikmati semua ini.
Perlahan aku tarik, dorong, tarik dan dorong lagi juniorku yang tertancap di ms.v nya. Awalnya ia memang hanya merintih kesakitan, namun seperti yang kuduga, lama-kelamaan rintihan sakitnya itu berubah menjadi rintihan nikmat yang sangat menggoda telingaku.
-Yoseob POV end-
-Jisoon POV-
“Oppa… kajja… kajja… ppali oppa ahhh arghhhhhh…!!” racauku.
Ohhh, ahh… ini nikmat sekali, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Aku tidak menyangka bahwa sex itu senikmat ini, tak heran kalau banyak manusia yang menjadikan sex sebagai sumber kenikmatan dunia kedua setelah uang. Sex and money. Ahh… rasanya aku sudah tak peduli lagi dengan yang namanya uang. Sepertinya aku mendadak hilang ingatan, aku tak ingat semua masalah dan kehidupanku sebelumnya. Yang kuingat hanyalah nama ‘YANG YOSEOB’ dan semua tentang seseorang yang memiliki nama itu. Dia nampyeon-ku. Namja yang paling tampan dan paling seksi bagiku malam ini.
“Owhhh hssshh, ahhh…. ah..” desah kami bersahutan.
Ia menarik juniornya sampai hampir keujung, lalu memasukkannya lagi secara penuh, begitu seterusnya berulang-ulang dan sangat cepat hingga bisa kurasakan twinsballnya menepuk-nepuk pangkal pahaku dengan keras. Rasanya begitu nikmat merasakan benda panjang, keras, dan berdenyut-denyut itu menghujam lubangku, gesekan dinding vaginaku dengan kulit juniornya itu membuatku gila karena nikmat. Apalagi bibirnya masih menjelajahi leherku dan kedua tangannya juga masih meremas kedua payudaraku. Tanpa kusadari sadari tadi aku meremas-remas sprei hingga sprei tersebut begitu kusut.
Dia mempercepat lagi gerakannya sambil terus mendesah. Desahannya sangat keras, mungkin bisa terdengar sampai luar kamar. Tapi rasanya, desahanku bahkan lebih keras darinya.
“Owhhh, ahhh ahh… terus… ahhhhh ppaliiiiii!!!! Yoseob-ssi. Yoseob-ssi, Yoseob-ssiiiii!!!” racauku lagi dengan menggoyang-goyangkan pinggulku berlawanan dengan gerakannya. Membuat gerakan kami semakin cepat, dan blurr…
Bisa kurasakan hangatnya cairan kami yang menyatu di rahimku. Setelah itu, kesadaranku sedikit-demi sedikit mulai kembali.
-Jisoon POV end-
-Yoseob POV-
Ms.v Jisoon terasa seperti memeras juniorku. Aku sengaja tidak langsung mengeluarkan juniorku itu dari lubangnya setelah klimaks kami yang berlangsung secara bersamaan agar ia bisa menikmati sisa-sisa orgasmenya. Selang satu menit, baru kukeluarkan juniorku yang berlumuran cairan cinta kami. Cairan yang keluar begitu banyak, hingga sebagian ada yang keluar dari bibir ms.v nya bersamaan dengan sepercik darah kevirginannya.
Aku langsung ambruk disamping Jisoon dengan napas yang masih terengah-engah. Aku tau banyak keringat yang ada di tubuhku, namun aku lebih memilih mengusap keringat Jisoon sambil memeluknya dengan sayang.
“OPPA~!” bentaknya sambil memukul dadaku pelan. “Kenapa kau mengeluarkan spermamu di dalam?!”
“Mwo? Wae?” ucapku tak mengerti.
“Aaaaa… Oppa… kenapa kau menjadi pabo malam ini? Nanti kalau aku hamil bagaimana? Aku kan masih sekolah!”
“Ish, bulan depan kan kau sudah ujian kelulusan SMA.” Balasku.
Dia diam saja hingga akhirnya aku melanjutkan, “Setelah lulus nanti, kau jangan langsung ke perguruan tinggi! Kau jaga calon anak kita baik-baik yah?! Kau mencintaiku kan? Hh?”
“MWO? ANIYOOOO…!! Siapa bilang aku mencintaimu?”
“MWO? ANIYOOOO…!! Siapa bilang aku mencintaimu?”
“Ish! Jangan bohong! Aku tau kau menikmatinya tadi! Ayo mengaku! Katakan saranghae nae nampyeon padaku! Kajja!” perintahku.
“Tidak mau!”
“Eh? Tidak mau mengaku? Baiklah! Akan kubuat kau mengaku sekarang juga!” kataku sambil memposisikan badanku diatasnya lagi. Ku lumat bibirnya dengan kasar dan kuremas payudaranya dengan kasar juga. Aku tidak tau sejak kapan tenagaku pulih kembali, tapi yang pasti saat ini aku ingin melakukannya lagi hingga ia mau mengaku bahwa dia mencintaiku!
“Eh? Tidak mau mengaku? Baiklah! Akan kubuat kau mengaku sekarang juga!” kataku sambil memposisikan badanku diatasnya lagi. Ku lumat bibirnya dengan kasar dan kuremas payudaranya dengan kasar juga. Aku tidak tau sejak kapan tenagaku pulih kembali, tapi yang pasti saat ini aku ingin melakukannya lagi hingga ia mau mengaku bahwa dia mencintaiku!
“Aw! Yoseob-ssi…!! apa yang akan kau lakukan? Kau mau menyerangku dengan kenikmatan lagi ha? Takkan kubiarkan!” ucapnya yang kemudian membalik posisi kami hingga kini aku yang ada dibawahnya. Dia melahap bibirku dengan ganas.
“Juga takkan kubiarkan kau menguasaiku nae aegyeo yeoja! Aku ini namja!” kataku dengan membalik lagi posisi kami sehingga sekarang aku kambali berada diatasnya.
Sambil masih menyerang bibir, leher, dan breastsnya secara bergantian, kumasukkan dua jariku kedalam ms.v nya dan mengeluar-masukkan dengan tempo yang sangat cepat, membuat ms.v nya menjadi basah lagi dengan cepat pula.
“Oppa… aku suka abs-mu… seksi.” Ucapnya ditengah-tengah seranganku.
“Pabo. Aku sudah naked sedari tadi, kenapa kau baru menyadarinya eohh??”
“Hahah.. awh ahhh… oppa… jangan teruskaaann!! Ini terlalu nikmat! Aku akan kembali gila kalau kau teruskan oppa!!! Ahhhh…!!”
“Kalau kau tak mau mengatakan saranghae padaku, takkan kudengarkan omonganmu!” kataku.
Juniorku kembali menengang, padahal sama sekali tak ada sentuhan yang dilakukan oleh Jisoon, namun secepat ini Juniorku mengacung dan siap tempur(?). Aaahh, juniorku memang selalu mengerti keperluan pemiliknya, dengan begini aku bisa benar-benar menyerangnya.
Kubalik posisi Jisoon tengkurap dan membelakangiku. Kuangkat pinggulnya keatas hingga posisinya sedikit menungging kearahku. Dengan cepat kusetubuhi dia dari belakang. Kusodok dengan cepat dan kasar juniorku sambil tanganku meremas dan mencubiti nipplenya sedangkan bibirku membuat banyak kissmark di lehernya juga dengan kasar.
Anehnya, desahan nikmatnya menjadi semakin keras dari yang tadi. Ishhh, yeoja memang sangat, membingungkan.
“Ahhhh!! Oppppaaaaa…!!! nikmat akhhhhh ahh arghh… fasterrrr!! Fasterrrr!!!”
“Panggil namaku Jisoon-ah! Teriakan namaku!”
“Oahhh Yang Yoseoooobbb!! Yang Yoseob! Yang Yoseob ahhhhhhh!! Yang Yoseoooobb! Awhh shhh ahh…”
Kupercepat lagi gerakan pinggulku. Membuatnya semakin mendesah-desah dan meracau tak jelas. Ia pasti sudah setengah sadar lagi. Ini kesempatan untukku membuatnya mengaku bahwa ia mencintaiku.
Kupertahankan kecepatan pinggulku sambil tangan kananku menggosok-gosok clitorisnya.
“Owhh… oppa!! Yang Yoseob! Yoseob-ssiiii!!! Saranghaeeeeeeeeeee!!!!!!” teriaknya pada akhirnya. Kami mencapai orgasme kami yang kesekian kalinya. Aku tersenyum puas melihat pipinya bersemu merah menatapku yang lagi-lagi ambruk disampingnya.
Dengan tersenyum malu, dipeluknya tubuhku sambil berkata “Saranghae nae napyeon. Jeongmal saranghae. Heheh.” Ucapnya.
Aku hanya tertawa kecil setelah mengatakan “nado saranghae” padanya.
Kemudian tak ada suara lagi yang keluar dari mulutnya. Mungkin ia tertidur karena kelelahan.
Tetapi… “Oppa.” Panggilnya tiba-tiba.
“Hm?” jawabku.
“Apa selamanya kita menyembunyikan pernikahan kita?” tanyanya.
Kucium rambutnya yang masih berbau shampoo. “Tentu saja tidak chagi. Setelah kau lulus nanti, akan kucari waktu yang tepat untuk mempublikasikan hubungan kita.”
“Tapi…”
“wae?”
“Bagaimana nantinya? Bagaimana dengan BEAST? Bagaimana kalau kau dipecat oleh Cube Entertaiment?” ucapnya dengan nada kuatir.
“Tidak akan. Lihat saja Junhyung, apa ia dipecat Cube ent? Apa popularitasnya menurun setelah mengaku berpacaran dengan Goo Hara?”
“Mereka kan hanya pacaran! Tidak menikah seperti kita!”
Dengan mengelus rambutnya, aku berkata “semuanya akan baik-baik saja.”
“Tapi oppaaaaaa… bagaimana dengan fans mu? Bagaimana dengan Yeobos? Mereka pasti sakit hati oppaaa!!”
Kulepaskan pelukan kami agar aku bisa menujukkan senyumku padanya. “Dengarkan aku, semuanya akan baik-baik saja! Lagi pula fans yang baik adalah fans yang mengerti perasaan idolanya. Fans yang membiarkan idolanya bahagia.” Jelasku
Dia tersenyum dan mencium bibirku.
Arg! Ini gila, juniorku berdenyut lagi. Kami sudah melakukannya dua kali, tapi anehnya aku belum juga puas dan sepertinya Jisoon juga demikian. Akhirnya kami melakukannya lagi sampai kamu benar-benar kelelahan dan tertidur sampai keesokan paginya.
-THE END-
Posted on November 24, 2011, in Oneshoot, Yadong NC 21 and tagged B2ST, NC 21, Oneshoot, Yadong, Yoseob. Bookmark the permalink. 41 Comments.






First kah?
Awalnya gak relaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa bgt bgt an suami tercinta terpolos sedunia jadi cast FF ini. Tapi tapi, saya memang nungguin bgt sih ada FF NC yg castnya Yoseob._.v One word = DAEBAK!! Nice FF, bahasanya saya banget pula-_- Saya sukaaa, disini Yoseobnya dewasa kkkk XD Good job ya^^
Hot bgttttt
Ceritanya jg asik
Ga keliatan di buat2..
Keren
daebak!! ><
daebaaak..
HOT banget
ha . . . bersatulah juga kau nakkkk
wahh keren thor ff nc nya
Aigo…
Seobie,,, d blik wjah imut mu trnyta kw lbh kuat dr yg ku kra..
#gelng” tk prcya..
Bgs thor,, low bsa bkn sekuel’a ampe mrk pnya seobie kcl..
Fighting.!!
Sequel nya dong hehehe^^v
Ceritanya keren (y)
Agh~.. XD
Cerita bagus thor..
Ksian hamBaro ku tapi ⌒̈
Tapi ttp DaeBak ko thor ceritax..
yaoloh yoseobbb ! daebak -.-b
kyaaaaaaa anjerrr hot bangettttt >w<
bkin sequel'a dong thor , ank mrka gmna nnti ! Hehe XD
Hmh aaaaaahh
aku racau dewek kaaan, korban NC -_-
Hot ah thor, hooooooooooooot banget > <~
Soonie malu malu mau ternyata wakakak
sequel ^^
ya ampun yoseob ama jisoon masih kuat aja ya hehehehehehe……….
seru + keren….:D
yeosob oppa main’a keren hehehehe…XD
#plak
#abaikan
poko’a ff’a DAEBAK…^-^
sumpah ya.. ini ngebayangin jisoon itu aku sendiri._. ahahahaha
Debak
Huaaaaa yoseob manatp benerrrr
Hooooot thor,DAEBAK.
Sequel ya
wow baru nemu ff nc yoseob. Hem hot thor, bagus kok. Tapi plis jangan sekali2 buat ff nc dongwoon, garela abis suami digituin haha
gla g kuat bcax hotttt
Q g xangka Yoseob bs jg yadongan gn,,,!!!hahaha
bagus thor,,,
lanjutin berkaryax y,,,!!!^^
Huaa seobie ku di bikin nc ><
gak kebayang tampang imut seobie kalo lagi yadong xD
Ahh.. mski rada ga rela yoseob yg jd cast.a tp puas jga c bca.a, dah lma ga bca ff yg cast.a seobie..
tp lbh puas lg klo cast yeoja.a ‘you’..
srasa gmanaa gtuloh.
hahaha
TOP dah thor ^^
akhirnya stlah sekian lama ad jga cast’y suamiq#plak plak..wlpun aq aga cmbru sm jison tp sumpah kren bett end hot bngt thor.
Awalnya kepanjangan, tapi hotnya bener2 deh, kwakwak. Bagus deh Thor~
oh ya ampuuuuunn… nambah lagi?!?!? ckckck
hot bgt mpe kenyang nih rasa y hehehe…..
yeosob ketagihan jd y….
Hot !
Gila Yang Yeosob polos berubah jadi ganas Arrww Keren thor .
Req Dongwoon oppa ,boleh ?
ahahah. author disiniiii….!!!! gomawo udah baca ffNC author! ^^ wkwwkk. sequel? insyaallah dah. *pake insyaallah segala, sok alim padahal tiap hari baca NC* XD.
Nice ff^^ Lanjutkan ya
Huhuhu yoseob yadongan? Ga nahaaaaaan
first? omo keren banget gini .
authornya lucu!
Wahh..
Aku suka ..
Alur Ceritanya benar-benar Hidup (?)
Kyaa . . . ~
yo~ppa kau tega sekali b’selingkuh dgn Jisoon. :’-(
aku ini kan anae mu…
#pLakk / d hajar yeobos.
aku suka,, aku suka,,
wlwpun td smpet gerah nae yo~ppa b’mesraan ma org laen… *buru2 kabur sblm d lempar golok ma yeobos*
1 kata…ENVY…!
TIDAK RELA SUAMIKU JADI BAHAN YADONG !!! Tampang yoseob yang polos dan cute .. OH TIDAAAAAK !!!!!
Tp beruntung lah thor, diriku hanya baca di mulut tanpa membayangkan, Karna baru kali ini nemuin cast nya yoseob -____-” *sedih tor suamiku di grepe2 wanita lain *lebaaaaaay hehehehe
Aw aw aw Yeosob yg imut nan menggemaskan jd agak dewasa dsni
Sampe brp ronde tuh thor?? Jiwa muda membara yaaaaa kwkwkkwk
Nice NC thor
Berapa ronde tuh? O.o
Ah gila . .
Ini bneran FF nC pertama mu thor ?
Gila udah HOT bgt ini . .
Haha gw jd gila bc.a
Keren ceritanya thor.
Hot banget.
wa ko kesanx gua jadi yeojax yg satu yoseob ku yeobo n yg satu namjachingu ku baro..wkwkwk….hot abis gua ng sangka pux yoseob ng sebesar yunho…wkwkwk