The X Life Story (part 1)
1. Author : May
2. Judul : The X Life Story
3. Kategori: NC 21, Yadong, Chapter
4. Cast:
- Yesung
- Ryeowook
- Kibum
- Donghae
- another Suju member
———————————————————————————————
Disclaimer: Super Junior isn’t belong to me, they’re belong to their own parent; I don’t own the girls cast too, they’re just their own selves; I don’t own Yoona too, she belongs to her parents; but I do own May, she is me, btw. Ah, I’ve posted this at my own blog -> http://brandnewmayautumn.blogspot.com/ (visit if you like to). This is my first NC FF so please give me comments~ Thank you ^^ mention me on Twitter -> @maysnong92
Chapter 1
“I’m in Korea…”
Begitu jeritan benakku ketika pertama kali aku menjejakkan kaki di Incheon Airport di Korea. Akhirnya, impianku selama empat tahun terakhir terwujud juga. Aku berhasil sampai di Korea. Hei, ini Korea!!! Aku masih terlalu senang. Aku meminta tolong pada seorang yeoja manis yang kebetulan tidak membawa barang bawaan yang banyak untuk membantu mengambil foto pertamaku di Korea dengan ponsel Samsung-ku. Dia dengan senang hati membantuku dan aku tulus mengucapkan terima kasih untuknya. Langsung saja aku meng-upload foto itu ke situs jejaring social Facebook, sementara di Twitter, aku cukup meng-update status “I’m in Korea…” Aku tersenyum sejenak sebelum menutup jaringan internet lewat ponselku dan memikirkan… akan ada comment seperti apa nantinya… atau… akankah banyak yang iri atau malah bangga juga dengan kehadiranku di Korea? Itu nanti saja kulihat, karena ada yang lebih penting lagi dari itu. Aku perlu menemukan “pemanduku” di Korea ini, soalnya aku benar-benar buta arah. Dan akhirnya aku menemukan seorang yeoja yang mengangkat kertas ukuran A-4 bertuliskan tinta hitam “MAY” dan aku tau, dia pasti menungguku. Kudekati yeoja itu, dan dia langsung menyadari kehadiranku.
“Ah… hai, May ya?” tanyanya dengan senyum manis yang terpampang di wajahnya.
Yeoja itu cantik, dan aku melihat ada sedikit dari garis wajahnya yang mirip dengan sahabatku Mefi disana. Yah, wajar, mereka sepupuan. Aku mengulurkan tanganku untuk lalu disambutnya.
“Hai, aku May,” sapaku.
“May, aku Audrey. Senang bertemu denganmu langsung.”
Dia benar. Selama ini aku dan Audrey hanya berhubungan lewat YM semenjak diperkenalkan (juga secara online) oleh Mefi. Mefi tau keinginan terbesarku di hidupku adalah untuk pergi ke Korea, jadi dia mengenalkan sepupunya yang sudah setahun bekerja di Seoul. Si Audrey ini sudah mencekokiku dengan banyak asupan informasi tentang Seoul hingga aku siap berada disini sekarang. Audrey membantuku membawa bagasiku yang tidak sedikit, menuju taksi.
“Audrey, terima kasih sudah menjemputku.”
“Tidak, tak perlu sungkan begitu, May. Aku sangat mengerti perasaanmu jika kau harus buta arah di Korea, yah seperti dulu waktu aku baru disini. Jadi, aku tidak akan membiarkanmu begitu.”
“Kau benar-benar baik, Audrey.”
“Hahaha… ayo May, sambil jalan aku sambil menjelaskan Seoul padamu.”
Aku tidak henti-hentinya menoleh keluar taksi selama Audrey terus menjelaskan tentang tempat ini dan itu yang taksi kami lalui. Mataku terpana pada keindahan Seoul di pagi hari. Jalanannya tidak terlalu ramai, mungkin juga karena sekarang adalah hari sibuk dan tepat jam kerja. Seoul pasti akan tampak lebih indah di malam hari. Taksi yang membawa kami langsung berhenti di salah satu apartemen yang entah di bagian mana Seoul sekarang. Si supir yang baik membantu kami menurunkan bagasi dan kami berdiri di depan apartemennya.
“Nah, May, sesuai yang kau pilih lewat internet, aku sudah memesankan kamar yang kau inginkan. Tapi… kau benar-benar tidak keberatan dengan biaya sewanya yang mahal, May?” Tanya Audrey terdengar khawatir.
“Tidak apa-apa, Audrey. Ketiga temanku akan datang selambat-lambatnya enam bulan dari sekarang, bisa jadi mereka bulan depan sudah datang. Lagipula aku tidak tahan repot memindahkan barang-barangku kalau harus pindah apartemen,” jawabku menenangkannya, “aku benci beres-beres.”
“Okelah kalau begitu May. Ayo, kutemani kau beres-beres.”
“Apakah aku tidak merepotkanmu, Audrey? Kau tidak bekerja hari ini?”
“Ah, kebetulan, sejak hari ini sampai dua hari ke depan aku mengambil jadwal cuti, jadi aku bisa memberikan waktuku untukmu.”
“Tapi kan seharusnya kau pakai waktumu sendiri untuk bersantai, Audrey.”
“Jangan permasalahkan itu, May. Aku ingin membantu sejauh yang aku bisa.”
Dan begitulah hari pertama yang kuhabiskan di Seoul. Apartemenku di lantai delapan dengan nomor 811. Apartemennya kelihatan lumayan mewah (biaya sewanya lumayan mahal), dengan empat kamar di dalamnya. Aku memilih kamar yang agak di dalam dan melewatkan dua kamar yang di depan. Entah kenapa aku suka kamar ketiga ini, ukurannya memang tidak seluas kamar pertama dan kamar yang di paling belakang, tapi aku hanya merasa kamar ini sepertinya menarik perhatianku. Hidup di apartemen adalah salah satu impianku, dan aku berhasil mewujudkannya. Selain membantuku menata apartemen, Audrey juga mencatat barang-barang apa saja yang aku butuhkan untuk melengkapi apartemenku dan dia berjanji akan menemaniku berbelanja.
Hari keduaku di Seoul juga diwarnai dengan kehadiran Audrey. Dia mengajakku mengenal lingkunganku (apartemenku sangat dekat dengan food court yang menjual makanan murah-murah dan lengkap, dekat mini market dan stasiun MRT juga berada tidak jauh), lalu kami berbelanja barang-barang kebutuhan apartemen. Di hari ketiga, Audrey membawaku berjalan lebih jauh lagi, juga mengajakku “mencicipi” MRT di Seoul sekalian membiasakan mata, telinga dan mulutku terhadap Hangeul. Yang satu itu, aku masih perlu banyak beradaptasi. Sebenarnya kedatanganku di Seoul masih kurang jelas untuk apa, yang aku tau dalam jangka waktu dekat aku ingin mengambil kursus Hangeul sebagai persiapan menghadapi TOPIK (aku ingin mendapatkan grade advance setidaknya) tapi aku datang kesini bukan dengan kemampuan nol dalam Hangeul. Aku belajar setahun dengan bimbingan sonsaengnim asli Korea, lalu tiga tahun dengan otodidak. Aku hanya perlu meyakinkan diriku kalau aku tidak akan gagal ketika tes TOPIK nanti, jadi aku perlu menemukan tempat kursus, segera. Dan, aku berharap Yenny, Julie dan Ivana datang secepatnya, karena aku bosan sendirian di apartemen, berharap mereka meramaikan hariku.
Aku tersenyum sendiri di dalam MRT saat aku membaca berbagai mention ke akun Twitter-ku. Tidak salah lagi, terlalu banyak orang yang iri karena aku berhasil sampai ke Seoul. Aku membalas mention-mention itu dengan sabar, image-ku selama ini cukup baik di Twitter sehingga aku punya banyak followers. Dan sekarang, setelah aku meng-update status, beberapa mention masuk lagi ke daftar mention yang bahkan belum sempat kubalas sebelumnya, jadi aku memutuskan membalas yang sudah mention duluan saja. Aku baru saja bilang aku akan ke Handel & Gretel. Aku sudah menyelidiki alamatnya (Audrey membantuku sebenarnya) dan aku berniat kesana hari ini. Tentunya, tidak lain dan tidak bukan adalah ingin bertemu dengan si pemilik coffee shop yaitu Yesung!! Hei, aku kan seorang Indonesian E.L.F yang berburu Suju!! Setelah H&G aku baru akan berburu ke dorm mereka. Tapi itu nanti saja. Aku masih punya waktu yang panjang untuk melakukan itu setelah aku selesai menyelesaikan urusan awalku di Seoul dulu. bukannya aku tidak mau segera melihat oppadeul itu, tapi aku tidak yakin apakah aku juga bisa menembus hingga ke pintu depan dorm mereka untuk bertemu mereka. Yang bisa kulakukan hanya mempertaruhkan nasib ke H&G.
Setelah dua puluh menit menaiki MRT (harus melewati tujuh stasiun), akhirnya aku sampai di pintu depan Handel & Gretel. Desain kafe itu memang uniq, aku tidak sabar ingin masuk ke dalamnya. Untungnya keadaan café cukup sepi saat aku masuk, dan mataku langsung jelalatan ingin mencari sosok yang ingin kulihat, yang mungkin satu-satunya yang paling mudah ditemui disini, yaitu Yesung. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada Yesung, tidak Nampak juga batang hidung Yongjin dongsaengnya yang ganteng itu. aku kecewa,. Tapi aku tetap memesan secangkir kopi yang nama Hangeul-nya paling menarik perhatianku dari daftar menu dan meminumnya dengan perasaan lega. Tidak apa-apa, aku bisa kesini lagi lain kali. Lagipula aku cukup mengambil foto tentang seputaran café ini dan mempostingnya lagi, untuk membuat orang-orang iri lagi.
Dua minggu kemudian aku sudah berhasil menemukan tempat kursus bahasa Korea untukku, jadi kesibukanku mulai bertambah sekarang, dan aku jadi tidak terlalu mengkhawatirkan kapan ketiga temanku akan menyusulku. Hangeul memang susah-susah gampang. Aku harus mempelajarinya mati-matian supaya kedatanganku kesini tidak sia-sia.
Aku menggumam tidak jelas tentang perubahan berbagai verb di Handel & Gretel hari ini. Tanpa terasa aku hampir sebulan sudah di Seoul dan aku suka sekali mampir ke café ini (mungkin sudah untuk yang kedelapan kalinya) tapi tidak sekalipun aku bertemu dengan Yesung dan Yongjin. Mungkin aku belum berjodoh dengan mereka. Tak apalah, aku hanya merasa terbiasa meminum kopi di café ini dan menikmati dekorasinya. Mataku sedikit berkunang ketika membaca kembali aksara Hangeul di bukuku, jadi aku memutuskan untuk menyegarkan mataku dengan melihat keadaan di sekitarku. Tapi mataku mendapat kesegaran yang berlebih. Aku kaget setengah mati dan jantungku berdetak kencang saat aku melihat Yesung baru saja memasuki café. God, itu Yesung!! Bahkan dari jarak sejauh lebih dari sepuluh meter, aku bisa dibuat sesak nafas olehnya. Aku memang seorang cloud E.L.F, jadi aku selalu nyaris tidak bisa berpikir jernih kalau ada sesuatu yang berhubungan dengannya. Yesung, rambutnya masih pendek semenjak kembali dari wajib militer bulan Juni kemarin, tapi ketampanannya tetap menggoda. Aku masih mempertimbangkan untuk mengajaknya foto bersama, tapi tidak tau bagaimana cara memohon padanya. Tapi tiba-tiba saja (aku aneh setengah mati), Yesung mendekatiku sambil membawa sebuah nampan dan secangkir kopi berasap di atasnya. Dia mendekatiku dan tersenyum!!
“Agassi, ini kopi yang Anda pesan,” ujarnya sambil tersenyum ramah.
Aku menggelengkan kepalaku untuk mengembalikan kesadaranku sepenuhnya, dan rupanya hal itu membuat Yesung kebingungan dan mengerutkan keningnya.
“Ini bukan pesanan Anda?”
“Ah iiiiiituuu pesanan saya.”
“Selamat menikmati.”
Masih sambil tersenyum, Yesung meletakkan kopi itu di hadapanku. Saat dia berbalik, aku tau aku mungkin tidak akan mempunyai kesempatan yang lain lagi, jadi aku nyaris menjerit waktu tiba-tiba bicara lagi.
“Yesung-sshi, bisakah aku minta tolong?”
Aku tidak yakin dia tidak akan menoleh, tapi rupanya dia menoleh dan tetap tersenyum, memandangku.
“Ya? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Yesung sopan.
“Bi… sakah… aku meminta foto bareng? Sekali saja?”
“Tentu saja. Tidak masalah.”
Dan aku kaget lagi ketika Yesung duduk di sampingku, sedikit menghempas sofa yang aku duduki. Aku merasa sisi tubuhku panas saat dia menempel begitu dekat denganku. Aku memandangi wajahnya yang tampan saat dia juga menghadapku. Yesung memang semakin lama semakin tampan, aku sering tergoda untuk menanyakan apakah dia ada mengkonsumsi obat tertentu. Garis matanya yang sipit namun tajam, alis matanya yang hitam, hidungnya yang kecil, bibirnya yang imut dan menggoda, kulitnya yang putih dan rambut pendeknya… aku merasa semua itu memabukkanku. Belum lagi kemeja hitam berkerah lengan panjang di balik celemek putihnya, dia… bagiku dia sangat sempurna. Yesung tersenyum, dan seketika wajahku merona merah. Aku tau, aku sedang melakukan hal yang sangat bodoh. Dengan geragapan aku meraih ponselku yang tergeletak begitu saja di dekat tembok (bahkan aku nyaris menjatuhkannya karena terburu-buru dan tanganku licin karena berkeringat), lalu segera mempersiapkan kameranya. Yesung semakin menempel dan jantungku sudah berdetak tiga kali kecepatan normal dan tiba-tiba aku merasa sangat panas di dalam ruangan ber-AC sejuk ini.
“Hana… dul… set…” hitungku, lalu menjepret dengan ponselku.
“Sekali lagi. Daripada yang tadi kurang memuaskan.”
Aku kaget mendengar permintaannya, jadi aku mengganti poseku sekali lagi, lalu menghitung dan menjepret lagi.
“Mana? Aku mau lihat hasilnya.”
Aku masih setengah kaget, membuka preview foto yang sudah diambil. Di foto pertama (hasilnya bersih, kukira tanganku gemetar tapi aku bersyukur pada kemampuan capture ponsel canggihku ini yang pasti mengurangi ketidakjelasan foto yang seharusnya) aku dan Yesung memasang pose yang nyaris sama, tangan kananku tidak kelihatan (ini yang memegang ponsel) sementara itu tangan kiriku kuletakkan di daguku, tersenyum tipis; Yesung meletakkan kedua tangannya untuk menopang dagunya, wajahnya bersinar saat tersenyum.
“Yang ini cukup bagus.”
Aku tertawa gugup mendengar ucapannya. Lalu aku menggeser layar ponsel touch screen-ku untuk melihat foto terakhir. Aku memasang pose V ala Ryeowook, tersenyum lebar dan memperlihatkan lesung pipiku yang persis dengan punya Leeteuk, dan Yesung di sampingku mengangkat cangkir kopiku seolah menawarkan minuman. Yang ini juga bagus, pikirku.
“Nah, ada lagi yang bisa saya bantu?” Tanya Yesung lagi, sudah kembali ke sikap formalnya.
“Ti… dak ada. Kamsahamnida, Yesung-sshi.”
Dia tersenyum sejenak sebelum meninggalkanku. Aku sedikit kecewa hanya sampai disitu interaksi kami. Tapi apa yang sebenarnya otakku pikirkan? Mana mungkin akan terjadi sesuatu yang lebih dari ini kan? Dia Yesung Super Junior, dan aku hanya seorang yeoja yang tidak jelas, yang bahkan tidak terlalu bisa ber-Hangeul-ria. Aku memandang punggungnya yang kekar. Sudahlah May, lupakanlah. Fokuslah pada Hangeul-mu, nasehatku pada diriku sendiri. Dan sekarang aku berharap Julie ada di sampingku. Dia pasti bisa menolongku sekarang.
Tiga hari kemudian, rupa-rupanya sahabat sekotaku Yenny sudah tiba di Seoul. Aku senang dan kami berpelukan lebay ketika aku menjemputnya di Incheon Airport. Kami berbicara nyaris tanpa bernafas, aku jadi kasihan pada supir taksi kami yang pasti tidak mengerti bahasa Indonesia kami.
“Jadi bagaimana? Yesung itu…” desak Yenny tidak sabaran.
“Lha, kan fotonya sudah kuposting lewat Twitter.”
“Dan pasti heboh ya? Aku jadi kena imbasnya. Kau tau, teman-teman kita banyak yang main Twitter juga sekarang. Mereka jadi mengintrogasiku.”
“Yah, tidak ada cerita lain sih. Dia Cuma kebetulan mengantarkan kopiku jadi aku bisa minta dia foto bareng. Cuma itu saja koq.”
“Yaaaah~ ayo kita kesana lagi.”
“Nanti. Tempatnya lumayan jauh. Kurasa kau juga mau mendaftar les Hangeul kan?”
“Aish, kau benar.”
Kubawa Yenny ke apartemen yang akan kami share bersama, Yenny memilih kamar kedua yang agak berseberangan dengan pintu kamarku. Kami menata apartemen sehingga tampak lebih baik lagi dari sebelumnya, dan kami menghabiskan dua minggu berikutnya dengan kesibukan belajar Hangeul dan sedikit melupakan Handel & Gretel.
Bulan September tiba dan aku akhirnya membawa Yenny ke Handel & Gretel. Dia sudah protes aku tidak juga membawanya kesana dan aku sudah kesal dengan segala ocehannya.
“Whoa, keren sekali cafenya,” puji Yenny.
“Kau baru lihat depannya. Kau akan suka kalau sudah di dalam.”
Aku mendengus mendengar pujian Yenny sepanjang aku membawanya menuju meja favoritku. Mata Yenny tidak berhenti melihat kesana-kemari seperti pertama kali aku mampir ke café ini. Aku cukup tersenyum menanggapi ucapannya. Yah, terasa kangen juga tidak kesini dua minggu. Sepertinya aku benar-benar perlu regular kesini, suasananya bisa membuatku rileks.
***
YESUNG’S POV
“Hei hyung, itu yeoja yang waktu itu kan? Yang fotonya bersamamu membuat heboh Twitter itu,” senggol Yongjin pada lenganku.
Aku menghentikan kesibukanku membuat kopi untuk melihat siapa yang Yongjin maksud. Maksudku, yeoja yang mana yang dia maksud. Maklum, setauku E.L.F manapun yang berfoto denganku pasti akan heboh, jadi aku tidak ada bayangan siapa yang dia maksud. Tapi mataku menangkap sosok yang duduk di meja bersofa panjang untuk berempat itu, dan kebetulan wajahnya menghadap dapur, jadi aku menyadari dia siapa. Itu yeoja yang minta foto bersama denganku bulan kemarin, dan aku tidak sengaja membaca beberapa mention tentang foto itu karena mereka me-mention akunku juga. Beberapa dari mereka menggunakan bahasa Indonesia (aku tidak mengerti, tapi Yongjin ngotot itu tampak seperti bahasa Indonesia di matanya), tapi ada juga yang menggunakan bahasa Inggris jadi aku sedikit banyak mengerti. Yeoja itu cukup terkenal sebelum mengambil foto bersamaku, tapi dia jadi semakin terkenal setelah foto itu. menurut beberapa comment, kami terlihat cocok. Aku mendengus. Cepat sekali mereka mengambil kesimpulan. Dari profil singkatnya, kulihat dia admin beberapa fanbase E.L.F sekaligus, dia seorang Cloudsomnia E.L.F (yang ini berarti jelas, dia fans berat aku dan Wookie) dan namanya May. Dia sering meng-update status menggunakan bahasa Inggris jadi entah kenapa aku sering mengintip profile-nya untuk membaca timeline-nya tanpa perlu menjadi follower-nya. Aku takut dia akan “diserang” atau bagaimana kalau aku berani menjadi follower-nya. Atau, kemungkinan lainnya, dia akan mati bahagia kalau aku lakukan itu. tapi… aku tersenyum iseng. Aku bisa menggodanya sampai aku puas sekarang. Aku melihatnya membuka dan membaca sebuah buku, hanya sesekali menanggapi yeoja di depannya. Aku tidak pernah melihatnya datang berdua kesini, jadi tidak tau siapa yang bersamanya. Sedangkan untuk buku yang dibacanya, aku nyaris yakin itu buku Hangeul yang dipelajarinya, dia bilang dia belajar Hangeul di Seoul ini (statusnya bilang begitu).
“Aku mau menggodanya,” putusku sambil merebut buku menu dari pelukan Yongjin.
“Ya~~~ hyung, jangan iseng.”
Aku mengabaikan Yongjin dan berjalan mendekati meja itu. si May itu langsung melotot kaget, tubuhnya langsung tegang. Yeoja di depannya (yang wajahnya masih belum terlihat olehku) tampaknya tidak menyadari perubahan sikap May. Aku tersenyum geli, wajah May yang kaget menurutku manis sekali, matanya bulat dan besar, ekspresinya tegang.
“Selamat datang. Silakan memilih pesanan Anda.”
Dan yeoja di hadapan May menoleh untuk memandangku, lalu menjerit kecil. May menyenggol tangan temannya itu, mendesaknya untuk membaca menu lewat lirikan matanya. May tidak sedikitpun mengalihkan matanya dari daftar menu, membuatku semakin geli. Yeoja temannya itu melirikku beberapa kali sebelum May mengajukan nama dua cangkir kopi dengan tergesa-gesa. Aku masih ingin menggoda May, tapi dia tersenyum sejenak lalu tidak berani memandangiku lagi. Ah, aku gagal sepertinya. Aku meninggalkan mereka berdua yang langsung berceloteh dengan bahasa asing yang tidak kumengerti itu. aku melirik wajah May yang sedikit merona merah itu. sudahlah, aku akan punya banyak kesempatan untuk menggodanya lagi.
Ternyata kesempatan untuk menggoda yeoja itu datang lagi minggu berikutnya. Kali ini targetku datang sendirian. Dia masih juga duduk di meja favoritnya. Aku terlambat beberapa menit dari Yongjin yang sudah menghampiri si May itu. ketika Yongjin kembali ke dapur, aku menyenggol lengannya.
“Aish, kau ini, kenapa mendahuluiku?” protesku.
“Lho, kenapa hyung? kukira hyung tidak melihatnya,” jawab Yongjin dengan wajah innocent.
“Aku kan ingin menggodanya.”
“Hyung suka padanya ya?”
“Apa kau kira aku jatuh cinta semudah itu?”
“Yah~ siapa tau kan?”
Aku mendelik kesal padanya, lalu membuatkan pesanan May. Ketika aku mendekati mejanya, kali ini dia tidak mendongakkan kepalanya, tidak tau aku membawakan pesanannya. Bahkan dia masih serius membaca buku dan menggumam ketika aku sudah duduk di hadapannya. Aku meletakkan secangkir kopi itu dan barulah May tampak kaget seperti biasa dan mata kami saling bertatapan. Aku tersenyum dan yakin sudah membuatnya sakit jantung. Entah kenapa aku menikmati mengerjai E.L.F yang satu ini.
“Ah… kamsahamnida, Yesung-sshi,” katanya bahkan sebelum aku mengucapkan apa-apa.
Dia minum kopi cepat-cepat tanpa memandangku, lalu menjauhkan kopi itu dengan cepat juga. Aku tertawa ketika dia mengipas-ngipaskan tangan kanannya di depan bibirnya. Kopi itu panas, pasti bibirnya melepuh. Bibirnya jadi tampak lebih merah dari biasanya dan entah kenapa, aku baru menyadari bentuk bibirnya yang tidak tipis itu cukup menggoda. Aku lalu meraih bukunya dan menggesernya menghadapku. Aku membaca covernya: Hangeul level 2.
“Kau belajar Hangeul?”
“Ya. Aku… begitulah.”
“Jadi kau seorang pelajar?”
“Ehm, tidak juga sih, Yesung-sshi. Aku mengikuti les untuk persiapan TOPIK.”
“Ah, begitu. Jadi bagaimana? Hangeul menarik untukmu?”
“Menarik sih, tapi sulit,” cibirnya, membuatku tertawa.
Aku sedikit terkejut. Entah kenapa, berbicara dengannya terasa sangat gampang. Apakah ini karena niatanku untuk menggodanya ya?
“Kalau ada yang tidak kau mengerti, kau bisa Tanya aku.”
“Hah? Ap… aniyo, Yesung-sshi, aku tidak bisa merepotkanmu.”
“Kau tidak akan merepotkanku koq.”
Aku membalik-balik buku itu dan menemukan May mengisi soal-soal disana. Dia mengerjakannya dengan cukup baik, tapi aku menemukan kesalahan di soal nomor lima.
“Sudahkah kau mengecek jawaban yang benar? Yang nomor lima salah.”
“Hah? Oh ya? Aigo, aku tidak mengerti yang itu.”
“Sini, aku ajarkan pemakaian kalimat yang benar.”
Sebenarnya Hangeul yang diucapkan May cukup baik, buktinya aku mengerti apa yang dia bicarakan. Namun dia berbicara dengan lambat, lalu ada aksen tidak-seperti-orang-Korea di Hangeul-nya itu. aku juga menyadari bahwa suaranya yang berat namun juga lembut itu terdengar unik. Aku mengajarinya Hangeul seolah menjadi tutor-nya, selain menemukan sedikit kesulitan ketika harus menjelaskan menggunakan bahasa Inggris padanya, aku menemukan mengajari seseorang terasa menyenangkan. Dia bisa tersenyum dan bersorak sesekali ketika aku memuji kecerdasannya.
“Apa itu?” tanyaku sambil menunjuk aksara mandarin di catatannya, “kau juga bisa mandarin?”
“Oh, ini? Ah ya… aku pernah belajar di China selama setahun.”
“Dan kau orang…?”
“Aku orang Indonesia. Hahaha… aku Indonesian E.L.F.”
“Hebat sekali. Kau bisa beberapa bahasa sekaligus. Apa tujuanmu datang ke Seoul? Belajar Hangeul? Kurasa itu bisa kau lakukan di negaramu sendiri?”
“Hmm… begitulah. Kupikir di Seoul akan lebih mempercepat aku mempelajarinya.”
“Kau mau kuliah? Berapa usiamu?”
Dia memandang mataku tajam. Apa aku terlalu banyak bertanya ya? Aish, aku heran sekali bisa begini penasaran tiba-tiba.
“Masih belum tau ingin kerja atau kuliah. Lihat saja nanti setelah aku lulus TOPIK grade berapa. Dan aku… sudah tua,” tukasnya.
Mana mungkin. Dia pasti bercanda. Dia kelihatannya tidak lebih tua dari 22 tahun. Aku mengulurkan tanganku dan membuatnya kaget.
“Aku Yesung, kau mungkin sudah tau. Siapa namamu?”
“Oh, aku… May. Senang berkenalan langsung dengan Yesung-sshi.”
“Bisa berhenti memanggilku Yesung-sshi?”
“Hah? Kenapa? Apakah aku salah?”
“Tidak, tapi kau boleh coba memanggilku dengan sebutan oppa.”
Dan rona pink kembali muncul di wajahnya, aku jadi tergoda untuk menyentuh pipinya itu.
“Ne, Yesung oppa.”
“Kalau kau butuh penjelasan tentang Hangeul, aku bisa membantumu. Kau bisa menemukanku disini, yah, kalau aku tidak cukup sibuk dengan persiapan comeback Suju,” jelasku, “tapi kalau aku tidak ada, kurasa Yongjin juga dengan senang hati membantumu.”
“Comeback Suju? Kapan, oppa? bulan depankah, seperti yang digosipkan?”
Ah, matanya berbinar. Dia benar-benar E.L.F rupanya.
“Ne, benar sekali. Sudah rindu pada kami?”
“Sudah pasti, oppa. kalau begitu aku akan menantikannya dengan tidak sabar.”
“Hahaha… kami juga tidak sabar untuk comeback. Ngomong-ngomong, kenapa kau sendirian? Mana chingu-mu?”
Dan dengan lugas (May sedikit terbata sih), dia bercerita tentang kehidupannya di Seoul. Dia bilang dia tinggal di apartemen bersama sahabatnya itu, dan yang lainnya lagi. Sikapnya yang santai dan terbuka itu entah kenapa membuatku tertarik. Jelas sekali masih ada sebab lain yang membuat dia makin menarik di mataku, tapi aku belum menemukannya. Setidaknya untuk sekarang.
Begitulah awal hubunganku dengan si Indonesian E.L.F itu. minggu depannya dia datang sendirian lagi, jadi kami kembali mengobrol dan aku menjadi tutornya lagi. Aku juga sudah mengenal chingu-nya si Yenny yang kebanyakan diam karena menurut May, hangeul Yenny belum terlalu baik, tapi May bersedia menjadi penerjemah juga, sejauh yang bisa ia terjemahkan untuk memperlancar komunikasiku dengan Yenny.
“Eoddeohke, oppa?” Tanya May dengan pandangan harap-harap cemas.
Aku memandanginya dan memasang wajah serius, jadi May malah tampak makin khawatir. Dan ekspresi itu juga membuatku gemas, rasanya aku ingin memeluknya, tapi aku tidak mungkin melakukannya di café yang sekarang sedang ramai ini. Tiba-tiba saja, aku tersenyum.
“Semuanya benar.”
Aku menyerahkan buku itu kembali ke hadapannya, May memandanginya tak percaya. Tapi bagaimanapun, tidak ada sedikitpun coretanku disana.
“Oppa, jinjja? Aku sudah mengerjakan 25 soal ini tanpa ada sedikitpun kesalahan?”
“Ne. kau sudah melakukannya dengan baik sekali. Coba kubilang… kau pasti bisa melewati tes advance dengan mudah, dan kalau cukup sukses lagi, kau bisa mencapai tingkat expert.”
“Whoa… gomawo, oppa. ini semua berkat oppa!!”
“Aniyo. Kau yang cukup cerdas koq sebenarnya.”
Wajahnya kembali merona, dan dia menenggelamkan diri dalam buku itu lagi.
“May, ayo kita ambil foto bareng lagi,” ajakku.
“Mwoya?”
Aku menyodorkan ponselku ke hadapannya, lalu merangkulnya. Tanpa tunggu lama, aku langsung menjepret ponselku begitu wajahnya sudah mendongak.
“Oppa… aku belum siap!”
“Itulah seninya.”
Aku melihat hasil jepretan itu, dan ternyata aku sangat menyukainya. Wajah May saat mendongak ke atas sangat manis, dengan sedikit ekspresi kaget dan rona pink di wajahnya, tanpa kusadari, dia sudah menarik perhatianku secara penuh. Bukan, aku harus mengganti kata-kataku. Dia sudah menarik hatiku. Aku tersenyum puas melihat posisi tanganku di bahunya.
“Sudah kubilang hasilnya baik.”
“Tapi oppa… oppa tidak akan meng-upload foto itu dimanapun kan?”
“Tentu akan ku-upload sekarang juga di Twitter, menuliskan bahwa aku berfoto dengan seorang Indonesian E.L.F,” jawabku lugas.
“Andwae! Oppa, jebal… andwae… aku tidak tahan diserang cloud E.L.F kalau oppa melakukannya.”
“Loh, kenapa? Ini kan hanya sebuah foto?”
“Oppa…”
“Hahaha… baiklah, aku tidak akan melakukannya kalau begitu.”
Kami sempat berbalas senyum sebelum May kembali menundukkan wajahnya. May, aku akan memastikan hatimu hanya untukku. Tidak boleh ada Cloudsomnia. Hanya Cloud. Hahaha… aku koq jadi egois begini ya?
***
MAY’S POV
“GILA!!!”
Julie dan Ivana berteriak barengan. Bahkan bagasi mereka belum dibereskan begitu kami sampai di apartemen. Yenny hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu tersenyum, soalnya Yenny sudah tau sampai detail kejadian setengah bulan yang lalu saat Yesung berfoto denganku itu. sesuai janjinya, Yesung tidak meng-upload foto itu kemana-mana, dan aku sengaja tidak bercerita pada siapapaun kecuali Yenny tentang kejadian itu. aku sudah meminta Yesung men-transfer foto itu ke ponselku, jadi kutunjukkan saja pada Julie dan Ivana foto itu. mata Julie dan Ivana sampai melotot nyaris keluar dari rongganya melihat foto “mesra” kami itu.
“Whoa~ kau akan mati kalau dia upload ini,” yakin Julie tanpa tedeng aling-aling.
“Untungnya dia cukup memenuhi janji,” kataku lega.
“Jadi kau sudah melupakan Wookie sekarang?” Tanya Ivana, suaranya menggoda.
“Err… si… siapa bilang?”
“Yah… kau kan belum bertemu Wookie,” sambung Julie, “dan sekarang kau akrab dengan Yesung. Sudahlah, jalani saja dengan Yesung.”
“Woi, hati-hati kalau bicara ya. Aku dan Yesung itu tidak ada hubungan seperti yang kalian pikirkan itu. kami masih sebatas E.L.F dan Suju, hubungan seperti itu saja.”
“Tapi aku koq melihat Yesung kelihatannya senang ketemu denganmu ya,” tambah Yenny membuatku jengkel.
“Sudahlah, terserah kalian mau bicara apa.”
“Ayo pergi kesana!” ajak Julie, melupakan tujuan awal dia datang ke Seoul.
“Hei, ujian TOPIK tinggal sebulan lagi.”
Aku senang sih akhirnya Julie dan Ivana melengkapi anggota apartemen ini (Ivana mengambil kamar paling depan, Julie yang paling belakang) tapi mereka terlalu antusias saat kuajak ke Handel & Gretel untuk pertama kalinya. Mereka tidak bisa berhenti menjulurkan leher mereka untuk mencari sosok Kim bersaudara. Aku sih hanya diam saja karena malu dengan sikap mereka itu. café ramai sekali hari ini, aku jadi susah membedakan yang mana tamu dan yang mana pelayan.
“May?”
Aku nyaris melompat mendengar panggilan Yesung yang terdengar akrab itu. aku melihatnya menghampiri meja kami. Dia sengaja ya? Rasanya masih banyak pelayan lain yang bisa menghampiri meja kami selain si ganteng yang satu ini kan?
“Anyeong, oppa.”
Julie dan Ivana memandangku dengan penuh selidik. Pasti karena sapaan “oppa”-ku yang sangat akrab untuk Yesung itu.
“Mereka chingu-mu?” Tanya Yesung.
“Ah, ne, oppa. ini Julie, yang ini Ivana. Julie, Ivana, ini Yesung oppa.”
Julie dan Ivana bersalaman dengan Yesung sedangkan Yenny bertukar sapa dengannya. Setelah mengantarkan pesanan kami, Yesung sempat mengobrol sebentar dengan kami. Dia duduk di samping Yenny karena nyaris tidak ada tempat lagi di sofa kami ini sebenarnya. Akibatnya aku jadi terdesak di tembok, Yenny duduk di antara aku dan Yesung, sedangkan Ivana dan Julie di seberang kami.
“Jadi TOPIK-nya awal bulan depan?”
“Yah, benar, Yesung-sshi,” jawab Ivana, “tapi kami masih belum yakin dengan kemampuan kami.”
“Tapi May ada perubahan koq setelah belajar disini. Bagaimana kalau aku juga menjadi tutor kalian hingga tes itu?”
“Tapi oppa kan masih sibuk dengan aktivitas promo?” Tanya Julie.
“Gwaenchana… kalian masih punya Yongjin. Ahh ya, May, kenapa Yongjin memanggilmu noona sih?”
“Hah? Aku memang noona-nya Yongjin koq,” jawabku.
“Jangan bercanda.”
“Oppa, aku 27 tahun. Berapa umurku oppa pikir?”
“Jinjja? Kupikir kau 22 tahun!!”
“Oppa, usia itu sudah lewat lima tahun yang lalu.”
“Whoa, enak ya punya wajah kekanakan seperti May,” ujar Julie.
“Kupikir usia kalian juga tidak lebih dari 25 tahun,” kata Yesung, masih terdengar kaget.
“Sayangnya oppa, usia kami sudah lewat dari perkiraan oppa juga. Aku dan Ivana lebih tua setahun dari May dan Julie,” jelas Yenny.
“Wah… sepertinya yeoja-yeoja Indonesia berwajah imut ya.”
Obrolan kami terasa lancar. Perlahan pikiranku melayang ke tempat lain. Aku jadi memikirkan omongan ketiga sahabatku ini tentang hubunganku dan Yesung. Kusadari, mereka memang benar. Aku menjadi cukup akrab dengan Yesung. Tapi… akankah terasa sakit kalau aku berharap terlalu banyak? Aku mencintainya, aku tau itu, tapi aku tidak yakin… yah, mana mungkin aku merasa yakin aku akan punya hubungan apa-apa dengan seorang Yesung. Aku pasti hanya terlalu berharap saja.
Ujian TOPIK baru berlalu dua hari yang lalu. Aku sudah berusaha mengerjakannya dengan sebaik-baiknya, tapi untuk hasilnya, entahlah. Aku selalu tidak pernah yakin setelah mengerjakan ujian, sudah kebiasaanku merasa begini sejak SD sampai sekarang. Sebaiknya aku pasrah dan menunggu hasilnya keluar bulan depan. Aku merindukan Handel & Gretel, meski baru empat hari aku tidak kesana. Sebenarnya yang kurindukan… café ini ataukah… pemiliknya? Dan jantungku kembali berdebar keras seperti biasa ketika aku melihat punggung Yesung di counter sana. Kurasa dia tidak mengetahui kehadiranku. Aku menuju mejaku yang biasa dan merasakan penghangat ruangan disini membuatku nyaman setelah menghadapi udara dingin di luar sana. Tinggal menunggu waktu saja salju akan turun di Seoul. Yongjin yang ketampanannya menyusul Yesung menghampiriku. Ah, pernahkah aku bilang kalau aku cukup akrab dengan Yongjin? Dia memanggilku noona, dan cukup sering mengajariku Hangeul ketika Yesung tidak ada di café.
“Noona, anyeong… apakah pesanan noona yang seperti biasa?” Tanya Yongjin lugas.
“Ya. Yang itu saja, Yongjin. Gomawo.”
“Apakah memerlukan hyung-ku?”
“Hah? Apa? Ah tidak… Yesung oppa kelihatannya sedang sibuk.”
“Aniyo, hyung bisa kesini dan menemani noona koq. Tunggu sebentar ya.”
“Ah, Yongjin, tidak per…”
Tapi sia-sia saja. Yongjin sudah pergi. Aaah, sebenarnya aku berdusta. Tentu saja aku ingin Yesung kesini menemaniku. Aish, apa sih yang otakku pikirkan? Aku… dan dia… tidak mungkin kan? Yesung terlalu tinggi kelasnya untuk disandingkan denganku. Dan rupanya Yesung mengantarkan minumanku dan duduk di seberangku seperti biasanya.
“Anyeong May… bagaimana dengan ujiannya?” Tanya Yesung.
“Err… aku tidak terlalu yakin, oppa.”
“Tapi kau sudah berusaha kan?”
“Aku ingat aku tidak boleh mengecewakan oppa dan Yongjin, jadi aku sudah mengerahkan segalanya.”
“Syukurlah kalau begitu. Mana yang lainnya? Kau kesini sendirian?”
“Mereka tidak rela keluar di cuaca dingin seperti ini, oppa. tapi aku merindukan kopi disini.”
“Ah, negaramu tidak ada musim dinginnya kan?”
Akhirnya pembicaraan kami hari ini adalah seputar Indonesia, dan sepertinya Yesung tertarik sekali dengan negaraku. Sulit untuk memikirkan seperti apa hubungan kami ke depannya. Mungkin hanya aku yang terlalu berharap. Buktinya kami hanya begini-begini saja koq.
“Anyeong hyung.”
Dan aku tidak perlu menoleh untuk memastikan siapa yang baru saja mampir ke meja kami. Disitu pasti Ryeowook. Pasti! Dan ketika aku memandang wajahnya, jantungku juga berdebar keras. Ryeowook benar-benar imut!!!
“Oh, Wookie? Sendirian?” Tanya Yesung.
Yesung menggeser duduknya dan menepuk sofanya, mengisyaratkan Ryeowook untuk duduk. Ryeowook yang manis itu duduk di sampingnya. Ini dia… pemandangan paling indah di dunia ini, ketika YeWook begini dekat. Aku tergoda untuk mengambil foto mereka berdua yang seperti ini, atau bahkan sengaja duduk di antara mereka, tapi aku kurang punya keberanian melakukannya.
“Ne, hyung. Cuma kepikiran minum kopi untuk menghangatkan diri,” jawab Ryeowook, suaranya seindah pelangi.
“Ah, Wookie, perkenalkan, ini May. May, ini Ryeowook. Kau sudah kenal, kan?”
“Tentu. Aku bukan E.L.F kalau tidak mengenal Ryeowook-sshi,” kataku berusaha setenang mungkin, “anyeong, aku May.”
“Anyeong, May. Aku Ryeowook,” balas Ryeowook ramah, “ah… namamu unik sekali kedengarannya.”
“Aku dari Indonesia.”
“Whoa, Indonesia???”
Dan anehnya, aku juga merasa cepat sekali akrab dengan Ryeowook. Dia juga namja yang menyenangkan seperti Yesung. Andai saja aku mengenal Ryeowook lebih cepat… tunggu dulu, jika memang iya, memangnya apa yang akan berubah? Ah… aku selalu begini, dilemma antara perasaanku sendiri. Karena aku memang punya kesempatan untuk mengenal mereka sedekat ini, sudah tiba waktunya bagiku untuk mencari tau… sebenarnya apa yang benar-benar kuinginkan…
“Ah, salju…”
Aku baru saja keluar dari pintu Handel & Gretel ketika salju tiba-tiba turun. Aku mengulurkan tanganku untuk menyentuh butiran putihnya yang ternyata sangat dingin. Aish, salahku tadi tidak mendengarkan nasehat Ivana yang menyuruhku memakai baju lebih tebal karena dia menonton berita tentang kemungkinan turunnya salju pertama di Seoul hari ini. Akibatnya sekarang aku sedikit kedinginan.
“May…”
Aku kaget ketika Yesung keluar dari dalam café. Tanpa banyak bicara, dia menyampirkan jaket bulu angsanya ke tubuhku. Aku jadi dibuat kaget lagi.
“Oppa…”
“Pakaianmu kurang sekali. Lagipula kau belum pernah melihat salju kan?” Tanya Yesung, tersenyum padaku.
“Iya, oppa. rupanya salju itu indah ya.”
“Ya. Tapi aku merasa dia seperti hujan. Langit sedang menangis.”
Kulihat Yesung oppa maju dan salju berjatuhan di sekitarnya. Pemandangan itu sungguh indah, dia memejamkan matanya sambil mengulurkan tangannya menyambut butiran salju itu. aku mengabadikan posenya dengan ponselku. Dia tampan sekali. Jantungku mulai berdetak tidak normal.
“May, ayo, kuantar pulang. Aku khawatir kau tidak tahan dengan dinginnya.”
Apa? Aku tidak salah dengar? Yesung khawatir denganku?
“Ah, aku bisa naik MRT, oppa. jangan khawatir.”
“Aniyo, biarkan aku mengantarmu. Lagipula aku perlu pulang ke dorm juga sekarang, jadi aku bisa sekalian mengantarmu.”
“Err… ah… baiklah, oppa.”
Dan setelah masuk ke dalam mobil, aku masih setengah tidak percaya aku cukup beruntung untuk duduk semobil bersama pengemudi paling tampan sedunia (yah, setidaknya menurut mataku) yaitu Yesung. Udara terasa hangat di dalam mobil, dan Yesung menyetel lagu-lagu Suju untuk menemani perjalanan kami.
“Oppa, empat hari lagi natal. Apakah oppa ingin ke gereja?” tanyaku iseng, sekadar memecah keheningan.
“Ehm, entahlah, May. Kau tau, kami punya jadwal di hari itu.”
“Oh, begitu.”
“Kau tidak mengajak Ivana dan yang lainnya?”
“Kuharap mereka mau pergi melihat-lihat, lumayan untuk menemaniku.”
“Ah, begitu.”
Lalu suasana kembali hening. Meski Yesung tidak mengatakan apapun, aku tetap saja merasa gugup bersamanya. Aku sering mencuri pandang ke arahnya. Dalam keadaan apapun, dia tetap terlihat tampan, Yesung ini. Andaikan aku punya keberanian untuk… ah, tidak, aku pasti tidak punya.
“May, maukah kau mengunjungiku di café sepulang dari misa natal di gereja?”
“Hah? Kenapa, oppa?” tanyaku heran.
“Aku hanya ingin mengajakmu makan-makan sederhana. Bagaimana?”
Aku lebih merasa ingin pingsan mendengar permintaannya itu. dinner? Kencan? Apa aku sedang bermimpi? Aku menggelengkan kepalaku. Aku pasti terlalu banyak berkhayal. Yesung pasti tidak menyembunyikan maksud tersendiri di balik ajakannya itu. lagipula, dia kan tidak bilang kami akan dinner berdua? Siapa tau aku bisa bertemu dengan beberapa member Suju malam itu.
“Ehm, baiklah, oppa.”
“Datanglah sendirian. Lain kali aku baru akan mentraktir yang lainnya.”
“Arasso.”
Mungkin benar, aku akan diajak berkenalan dengan member Suju yang lainnya saat dinner itu setelah mengenal Ryeowook…
-To Be Continued-
Note: No NC buat chapter pertama ya~ tolong diperhatikan dan dicomment plot-nya juga… gomawo ^^
Posted on November 24, 2011, in Chapter, Yadong NC 21 and tagged Chapter, Donghae, Kibum, NC 21, Ryeowook, Super Junior, Yadong, Yesung. Bookmark the permalink. 63 Comments.






aaaaa….
Iri sayaaa…
Lanjut…
huwaaaa!!! aku clouds!! IRI SAMA MAY!! IRI!! IRI BANGET!!
wah keren keren keren,,,,!!!!
q sukaaaaaa bgt m crtx,,,!!!
brasa ikut deg2nx May pas ktmu Yesung n Wookieppa,,,!!!
mngkn krn crtx tu ttg Elf indo kli y,,,jd brasa bgt,,,!!!
q g peduli nie ff ad yadongx pa g,gn aj dh keren koq,,,!!!
tp psti bkal lbh keren klo pke yadong,,,!!!hahaha*plak
dtunggu bgt klanjutanx y thor,,,klo bs scptx,,,!!!
Gomawo,,,,^^
Critanya mkin menarik!
Part 1 emang cocok klo kgak ada NCnya
jgn lma” part slanjutnya
kaya ny bkalan chap ny panjang nich… Nc yadong ny az blm keluar d chap 1ny. Krna in hyalan setiap ELF jd bingung mau kment ap.
kereen,kereen,kereen,wlpun blum ad Nc’y,tp crtanya g ngebosenin.dtnggu klnjtan’y.jngn lama2 y
Kerrreeennn…
kaya novel…:-D
bikin novel aj thor….
daebakkk…pengambaran tempatnya detail…susunan kta2nya bagus…
lanjjjuttt thor…
AAAAAAAA GILA iri banget sama may aaaaaaa ceritnya kren thor
ninggalin jejak dulu
huweee . . Iri bgt ama may!!
Ini hayalan kan thor?
Aq bcanya kaya bner2 udah ksna .
Hehe, hebat nulisnya
btw, ade nya yeppa itu Jongjin bkn yongjin, hehehe
chapter slanjutnya jgn lama2 ya . .
kenapaya berasa datar… Kaya prnah denger cerita semcam ini.. Mian just comment
DY -> datar ya > mian, aku typo bener dah… aku inget itu Jongjin tapi typo di cerita ini gak tau kenapa -___-” thx uda ingetin ya ^^
chifa12rofiana -> gomawo ^^
Changmine -> cita2 emang pengen buat novel ^^ gomawo ya~
AiluveYs -> gomawo ^^
Adhelice Rizmala -> sampai 11 chapter ^^ dinantikan aja~
3vilmagnae -> gomawo ^^
shinyesungrin -> jangan iri… ini kan cuma khayalan, hehe ^^
gomawo utk semua comment *bow*
whoaaaaa! daebakkk dech thor! andaikan kehidupanku kaya May *mimpi*
lanjut thor
apakah yg akan terjadi???… ditunggu ya…
Andaii…
E.L.F pling bruntung noh si MAY itu..
Daebak…
adeknya yesung namanya jongjin kan?bukan yongjin??
Lnajutttt
iriiiiiiii… Mw ama dongeeee aq…haha
kyaaaaa..aku juga cloud..
iriii deh ! –”
jangan lama² yah next partnya !
yeah critanya bagus n alurnya pas
untung gx bneran,,
klo beneran mah,,
SUER GW ENVY BANGET!!
Keren cerita.y, alur.y jga menarik jd gak bosan baca.y…
Hwaa, enak banget yah jd May, bsa dekat ma idola.y. Seandai.y aku jga bza akrab ma kyuppa, senang banget pasti rasa.y#ngayal
Ceritanya menarik chingu
i will wait for the next chap ^^
Kereeennnnnnnnn,,,,
, jd assten nya jg boleh, hahahhah
May bruntung bgt ya
*Aq jg mw prgi k korea ktmu ma Haepa
Pnsran thorr,, may agak dilema ya? Antra yesung n wookie???
ampe 11 chapter ya thor? kepanjangan~
cerita d’awalnya datar bener thor,Hehe ^^
Arrrrrgggghhhh…
Tidakkk
yeye oppaa…
Aku CLOUDS..
Aku mau jd mayyyyy
kaya berasa dinovel infinite yours, tpi ada bedanya~
mian, saya reader baru aja udh bacot kkkk~ X)
oya, nulisnya pake bahasa yg bener yah biar lebih enak, mksudku yg kaya ‘koq’ diubah jadi ‘kok’
mian, ga maksud menghina atau apa, saya cuma komen
bagus ceritanya,iri banget ama may hehehehe……..
lanjut……..
doa q sepertiny nambah neh, aq ingin menjd may dan bisa brkenalan dekat sprti dy >.<
author sadis! buat ff yg bikin iri+sakit ht!! tp bagus ^^b aq suka alurny g bikin pusing dan trkesan alami ky bkn ff tp diary,, lanjutkn thor!! tp jgn jd kacau y crtany^^
TOP
mau dong jadi may… tpi ketemunya eunhae couple… hehehheeh….
critanya daebak thor… imajinasinya jalan.. heheheh..
Sebenarny klu ini 11 chap kekny pnjangan deh =.=a kburu bosan readernya

smoga konflikny bkn reader sampe gigit bantal wkwkkw XD
Jd brasa ini kyk novel trlalu detil krn dceritain smuanya dn alurny jd lambat bgt
Nunggu konfliknya aja deh
Ya ampun ak komenya kok detil bgt jg ya щ(ºДºщ) #ikutan detil”lan..
Ok deh buat smuanya udh bgs ^^ bhsny jg ok >,<.
Saran : cb potong dbagian lg seru"ny deh pasti bikin reader guling" sngkin pnasarnya wkwkkw XD
ceritanya menarik,ditnggu next part,jd pengen ke korea,haha
wow, thanks yang udah comment .><.
wow, thanks yang udah comment :’)
btw aku sudah kirim ke admin sampai chapter 8 ^^
jadi mari tunggu kapan admin-nya bakal nge-post chapter2 selanjutnya ya~
readers boleh bujukin admin tuh *wink wink*
btw sorry kalo ceritanya datar
aku udah berusaha… banget…
aku sebenarnya penulis lama sih, tapi baru sekali bikin FF NC
dan dasarku emang bukan FF, tapi aku penulis novel
jadi rata2 FF yg kutulis itu uda bentuk novel
jadi FF ini berasa detail banget…
mian yah buat yg mungkin ngerasa ceritanya ngebosenin *bow*
:’(
btw iya aku typo banget si Yongjin dan Jongjin itu…
sekali lagi maaf yg sebesar-besarnya :’(
jd pingin kesana ……
hiks…..
Uwoooooo dilema yesung ama wook tuh may?? Eiiissssh ama yesung aja laaaah Ơ̴̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴̴͡
Gwenchana…
Mwo…
Wuaa…
Pingin deh kayak may…
Hwaa…
Tapi ada yg menganjal hati nih!
Yesung pulang wamil bulan juni?
G sih.. Cuma kali aja kejadian beneran, kyk di FB, ada admin yg sempat nanya k member klo wookie punya abs kyk siwon gimana? Eh.. Besokx (SS4) kejadian
sama may ini non muslim y?
Keren thor!
Lanjutkan!
Aaaargh envy ga ktulungan.
seandainy cast.a itu aq ndiri n nyata.
psti bhagia dunia akhirat klo kjdian..
*khayalan tgkt dewa*
udh thor jgan ad NC nya aj, ga kuat aq ntar ngbca.a..
hehehe
iriiiiiiiiii,,,, seandai y bisa kyk may pergi k korea n deket ma member suju….
Lanjut….
Howaaaa..berasa ada di korea deh..wkwkwk..
Bagus, chingu..lanjuuuut
Jongjin.. Adiknya yesung itu jongjin.. Bkn yongjin.
Brp bulan d korea msh blm lancar hangul? Apa sesulit itu? *jd ga niat bljr wkwk
btw, itu crta taun kpn? Yesung slesai wamil? Heuu TT Trs May lhr taun brp? Kl jongjin panggil nuna, brati wook jg panggil nuna..
Mw dibuat chapter yh?? Hmm.. Can wait for..
Nice ff onn..
Mw dibuat chapter yh?? Hmm.. Can’t wait for..
Nice ff onn..
huaaa envy banget sama May !! ><
berasa bukan baca FF, tapi baca Novel Best Seller loh~ rada lebay tapi emang bener
lanjut ya thor, ditunggu part selanjutnya ^^
aiiiissshhh sumpah keren bgt…aku bisa membayangkan…ceritanya hampir mirip sama kehidupanku….lanjut baca chap slanjutnya…
hei yesung oppa 2012 aq akan ke sana tunggu aq jangan lariiiii
waaa. Adminn Mauu Dehh Kyk Unnie May..
Adminn Bikin saya cemburuu!!..
*nangizzz” bayanginnya..
#plakkk *dijitak admin
Bagus kok ceritanya.. Kenapa aku bilang gitu? Soalnya aku suka FF yang ceritanya kayak gini, berasa castnya aku sendiri..
good job thor..
Ouuh…aku mrasa author bnr2 prnh kKorea..dg mmbaca epep ini brasa aku yg jd may!
Buagus bnget nie epep…
I like it!
iri sama may,,, jadi pengen ke korea juga..
Wah enk’y jd may…jngn2 yesung ngjak may mkn2,mw mnytkn prasaan’y ‘cos kyk’y yesung suka sm may…
Lanjut next chap ah…
waktu bacanya cengar-cengir sendiri
kerasa jadi May, secara saya kan juga Cloudsomnia ><
kekekeke ^^
kyaaa,,,aku pinggiiiin,,,,
Hoho,,sengaja baru baca,,soalnya klo partnya belum end,, malas baca takut pas dibaca part selanjutnya gantung..
ceritanya baguss,,,suka,,suka
waaaaah beruntungnya jadi seorang “MAY”.
MAUUUUU…..
Yaaaa!!! Keren abis!!! Seandainya itu Heechul atau Kyuhyun pasti aku gak relaaaaa!!! >< Full story, Nice story… DAEBAK THOR!!!
kyaaaa… daebakk…
critanya bgus chinggu….
anw,, salam kenal…
dan jujur,, aku bakal sering buka blog kamu krna
aku juga CLOUDS….
Berasa baca diary!!!
Keren alur n plotnya…
wooooaaa iri setengah mampus
Wah keren thor,jadi penasaran lanjut thor.
Jangtung saya jedag jedug bacanyaaaa
Ini lebih ke khayalan yang mungkin bisa jadi nyata
Daebaaaaaak hohoho
Oh jd ini kisah pertama’y (^,^)
bagus thor..aku ngarep bgt dh jd si “May” (-__-)
Thor!!!!!!!!!!!!!!!!! tanggung jawab…!!! hiks hiks hiks….aku jealous berat sama May..arrgghhh…..bikin iri setengah mati…!